Waspada! Hewan di Sekitar Rumah Ini Bisa Picu Gagal Ginjal Akut pada Anak
JAKARTA, iNews.id - Keberadaan hewan di sekitar rumah tidak boleh dianggap sepele oleh orang tua. Selain berisiko menyebabkan luka gigitan atau gatal-gatal, paparan racun dan bakteri dari hewan tertentu juga dapat memicu komplikasi kesehatan serius pada anak, termasuk gangguan ginjal akut.
Dokter Spesialis Anak, dr Reza Fahlevi, menjelaskan bahwa bahaya biologis (biologic hazard) dari sejumlah hewan dapat merusak ginjal melalui mekanisme yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu mengenali berbagai ancaman yang dapat membahayakan kesehatan anak.
Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah gigitan ular berbisa. Racun ular dapat mengandung toksin yang memicu kerusakan organ, termasuk ginjal. Tingkat keparahan kondisi tersebut bergantung pada jenis ular, jumlah bisa yang masuk ke tubuh, serta kecepatan penanganan medis.
“Bisa ular yang masuk ke tubuh anak mengandung toksin yang dapat memicu kerusakan ginjal dari berbagai mekanisme. Tingkat keparahan tergantung pada jenis ular, jumlah bisa yang masuk, serta kecepatan penanganan,” ujar dr Reza, dikutip Minggu (25/10/2026).
Selain ular, lebah dan tawon juga menjadi hewan yang perlu diwaspadai. Sengatan kedua serangga tersebut dapat memasukkan racun ke dalam tubuh dan memicu reaksi yang berpotensi merusak ginjal, terutama jika anak mengalami sengatan dalam jumlah banyak.
“Sengatan lebah dan tawon juga mengandung toksin yang dapat memicu kerusakan gangguan ginjal akut berat baik karena efek langsung toksin maupun respon tubuh terhadap toksin. Semakin banyak sengatan lebah maka semakin parah potensi kerusakan ginjal yang terjadi,” kata dia.
1. Nyamuk Pembawa Malaria dan DBD
Nyamuk juga termasuk hewan yang dapat memicu komplikasi serius pada anak melalui penyakit yang ditularkannya. Nyamuk Anopheles dapat menularkan parasit penyebab malaria, sedangkan Aedes aegypti merupakan salah satu pembawa virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD).
Menurut dr Reza, malaria berat, terutama yang disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum, dapat memicu gangguan ginjal akut. Risiko serupa juga dapat terjadi pada anak yang mengalami DBD berat hingga mengalami dengue shock syndrome atau sindrom syok dengue.
“Nyamuk Anopheles adalah pembawa parasit malaria dapat menyebabkan malaria berat hingga memicu gangguan ginjal akut berat terutama malaria falciparum. Selain malaria, nyamuk Aedes yang membawa virus dengue yang penyakit demam berdarah juga dapat memicu gangguan ginjal akut pada kondisi berat (dengue shock syndrome),” ucap dr Reza.
2. Kalajengking dan Laba-Laba Tertentu
Kalajengking dan beberapa spesies laba-laba juga memiliki racun yang berpotensi membahayakan kesehatan. Meski kasus serangan kedua hewan ini relatif lebih jarang dibandingkan gigitan ular atau sengatan lebah, toksin yang masuk ke tubuh tetap perlu diwaspadai.
Dampak yang ditimbulkan bergantung pada jenis hewan, karakteristik racun, serta kondisi korban. Pada kasus tertentu, paparan racun dapat memicu gangguan sistem tubuh yang berpotensi berdampak pada fungsi ginjal.
3. Tikus Pembawa Bakteri Leptospira
Ancaman terhadap ginjal anak tidak hanya berasal dari racun gigitan atau sengatan hewan. Tikus juga dapat menjadi perantara penyebaran bakteri Leptospira, penyebab penyakit leptospirosis.
Penularan dapat terjadi melalui air atau lingkungan yang terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi. Anak yang terpapar bakteri tersebut berisiko mengalami leptospirosis, yang pada kondisi berat dapat menyebabkan gangguan ginjal akut.
“Tikus merupakan hewan perantara pembawa bakteri Leptospira melalui air seninya pada genangan air yang dapat menyebabkan penyakit leptospirosis pada anak. Pada kondisi berat, penyakit ini bisa menyebabkan gangguan ginjal akut pada anak,” ujarnya.
Orang tua perlu menjaga kebersihan lingkungan rumah, menghindarkan anak dari hewan liar, serta mencegah mereka bermain di genangan air yang berpotensi tercemar. Jika anak mengalami gigitan ular, sengatan dalam jumlah banyak, atau menunjukkan gejala penyakit berat setelah terpapar hewan maupun lingkungan yang berisiko, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Editor: Dani M Dahwilani