Waspada, Kecanduan Internet Bisa Turunkan Fungsi Otak

Siska Permata Sari ยท Kamis, 06 Agustus 2020 - 14:34 WIB
Waspada, Kecanduan Internet Bisa Turunkan Fungsi Otak

Batasi pemakaian internet kepada anak. (Foto: Boldsky)

JAKARTA, iNews.id - Smartphone dan internet memang satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Keduanya juga telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di era digital seperti saat ini. Apalagi di era pandemi Covid-19, di mana sebagian orang lebih banyak beraktivitas lewat daring daripada berinteraksi secara fisik.

Namun seperti yang kita tahu, segala yang berlebihan tidak baik bagi tubuh, termasuk dalam hal penggunaan smartphone dan internet. Terutama pada anak-anak dan remaja.

Hal itu diungkapkan Dokter Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr dr Kristiana Siste, SPKj (K). Dia mengatakan bahwa kecanduan internet dapat memengaruhi fungsi otak.

“Kecanduan internet ada kaitannya dengan fungsi otak. Jika anak atau remaja mengalami kecanduan internet, misalnya, akan ada area otak yang rusak,” tuturnya dalam pemaparannya di webinar Kementerian Kesehatan pada Rabu (5/8/2020).

Area otak yang terdampak karena ketergantungan internet adalah Lateral prefrontal cortex - Lateral Parietal (LPFC-LP). Area tersebut berfungsi untuk memusatkan perhatian, membuat rencana, menyelesaikan masalah, hingga pengendalian diri.

“Bayangkan ketika area itu rusak, anak akan sulit membuat keputusan, menjadi sulit konsentrasi sehingga pelajaran terabaikan. Kemudian pengendalian dirinya akan buruk dan area Lateral Parietal berguna untuk intropeksi diri, sehingga ketika rusak, anak tidak bisa lagi refleksi diri,” katanya.

Ada beberapa tanda jika anak dan remaja mengalami kecanduan internet. Mulai dari pikirannya yang selalu tertuju pada penggunaan internet, durasi penggunaan smartphone dan internet yang meningkat, dan tujuan penggunaan internet untuk mengatasi emosi negatif.

Oleh sebab itu, perlu peran orangtua untuk mencegah kecanduan internet pada anak dan remaja. Selain menjadi contoh, penerapan kebijakan dalam keluarga juga perlu dilakukan.

“Misalnya, mereka harus membatasi screen time. Kemudian membatasi jumlah smartphone dan bisa juga menerapkan detoksifikasi selama satu hari setiap minggunya. Selain itu, disarankan juga melakukan mental health check up,” katanya.

Editor : Tuty Ocktaviany