Lagu Perlawanan The Hunger Games Menggema di Tengah Kepungan Gas Air Mata Demo Prancis
PARIS, iNews.id - Lagu The Hanging Tree dari film The Hunger Games menjadi sorotan di tengah gelombang demonstrasi pelajar di Paris, Prancis. Lagu yang identik dengan semangat pemberontakan itu dimainkan oleh Orchestre du Nouveau Monde, kelompok orkestra yang turun ke jalan untuk menyuarakan solidaritas terhadap gerakan pelajar.
Momen tersebut menarik perhatian karena terjadi ketika Prancis dilanda aksi demonstrasi yang diwarnai ketegangan. Ratusan musisi yang tergabung dalam Orchestre du Nouveau Monde bahkan terdampak gas air mata saat menggelar pertunjukan di Place de la République, Paris, pada Sabtu (17/10/2026).
The Hanging Tree bukan sekadar lagu pengiring film. Lagu tersebut dikenal luas melalui film The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 yang dibintangi Jennifer Lawrence sebagai Katniss Everdeen.

Dalam film tersebut, Katniss menyanyikan lagu yang kemudian berkembang menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan Capitol. Lagu itu menjadi bagian dari narasi pemberontakan dalam dunia distopia The Hunger Games.
Latar cerita tersebut membuat The Hanging Tree memiliki daya tarik tersendiri ketika dimainkan dalam demonstrasi. Musik yang berkaitan dengan kisah perlawanan terhadap penguasa itu terdengar di tengah gerakan pelajar yang menuntut perbaikan kondisi pendidikan di Prancis.
Meski demikian, belum ada keterangan yang memastikan bahwa lagu itu dipilih secara khusus untuk menyindir pemerintah atau aparat kepolisian Prancis. Makna simbolisnya dapat dibaca dari konteks film dan situasi demonstrasi, tetapi motif khusus para musisi tidak bisa dipastikan tanpa pernyataan langsung dari mereka.
Sorotan terhadap Orchestre du Nouveau Monde semakin besar setelah ratusan anggotanya terdampak gas air mata saat demonstrasi di Place de la République pada 17 Oktober 2026.
Menurut laporan media Prancis Télérama, lebih dari 400 musisi datang untuk memainkan musik sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan pelajar. Mereka tiba sekitar pukul 11.30 waktu setempat untuk melakukan persiapan.
Étienne Cognet, petugas hubungan pers orkestra sekaligus pemain tuba, mengatakan situasi awalnya berlangsung tenang. Namun, sekitar tengah hari, gas air mata mulai menyebar di lokasi. Penggunaan granat pembubaran massa dan ancaman tindakan aparat kemudian menambah ketegangan.
Cognet mengungkapkan kepada Télérama bahwa selama lima tahun bergabung dengan orkestra, itu merupakan pertama kalinya mereka terkena gas air mata saat demonstrasi.
Para musisi berusaha melanjutkan permainan selama sekitar 20 menit. Akan tetapi, kondisi yang semakin tidak kondusif akhirnya membuat mereka harus meninggalkan lokasi.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan setelah kejadian, Orchestre du Nouveau Monde menyebut sekitar 500 musisi berkumpul untuk mendukung gerakan pelajar. Mereka menyatakan konser yang telah dijadwalkan tersebut akhirnya tidak dapat berlangsung sesuai rencana karena para musisi terpaksa membubarkan diri.
Orchestre du Nouveau Monde merupakan kelompok musik yang menggunakan seni sebagai sarana menyuarakan isu sosial dan lingkungan. Melalui pertunjukan di ruang publik, mereka berupaya mempertemukan musik dengan aspirasi masyarakat.
Aksi mereka berkaitan dengan gelombang protes pelajar yang menyoroti persoalan pendidikan publik di Prancis, mulai dari kekurangan guru hingga ruang kelas yang terlalu padat dan kondisi fasilitas sekolah.
Laporan Vogue France pada 14 Oktober 2026 mencatat bahwa gerakan pelajar telah berlangsung selama beberapa pekan. Dalam aksi di Paris pada 13 Oktober, sekitar 100 musisi dari orkestra tersebut memainkan sejumlah lagu yang dinyanyikan bersama oleh peserta demonstrasi, termasuk The Hanging Tree.
Kehadiran orkestra itu memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi bagian dari penyampaian aspirasi di ruang publik. Di tengah tuntutan perubahan kondisi pendidikan, para musisi menghadirkan pertunjukan yang menyatukan seni dan solidaritas.
Editor: Muhammad Sukardi