Hikmah

Hakikat Sidratul Muntaha dalam Isra Miraj, Lambang Kebijaksanaan Tertinggi Nabi SAW

Kastolani ยท Rabu, 10 Maret 2021 - 06:30:00 WIB
Hakikat Sidratul Muntaha dalam Isra Miraj, Lambang Kebijaksanaan Tertinggi Nabi SAW
Nabi Muhammad SAW menjalani isra miraj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha dan mendapat perintah sholat. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Perjalanan Isra Miraj merupakan peristiwa dahsyat Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina dengan mengendarai buraq lalu naik ke langit tujuh hingga ke Sidratul Muntaha dalam semalam. 

Disebutkan dalam hadits bahwa Nabi SAW ke Sidratul Muntaha, lalu dikatakan kepada Nabi Saw., "Pohon Sidrah ini merupakan tempat pemberhentian terakhir (bagi amal) setiap orang dari kalangan umatmu yang mati dalam keadaan berpegang kepada sunnahmu."

Dan ternyata Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang dari akarnya mengalir sungai-sungai yang mengalirkan air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai yang mengalirkan air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai yang mengalirkan khamr yang enak bagi orang-orang yang meminumnya, dan sungai-sungai yang mengalirkan madu yang disaring (dijernihkan).

Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang naungannya tidak dapat ditempuh oleh seorang yang berkendaraan selama tujuh puluh tahun, sebuah daunnya saja dapat menutupi seluruh umat manusia.

Maka Sidratul Muntaha diliputi oleh Nur Tuhan Yang Maha Pencipta, dan para malaikat menutupinya pula seperti burung-burung gagak bila hinggap berkerumun pada suatu pohon, karena kecintaan mereka kepada Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Di tempat itulah Nabi SAW diajak berbicara oleh Allah SWT

Hakikat Sidratul Muntaha

Dikutipdari buku Karya Lengkap Nurcholish Madjid disebutkan bahwa Muhammad Asad seorang penerjemah Alquran dalam bahasa Inggris dan penafsir dengan menggunakan bahan-bahan kitab tafsir klasik, menerjemahkan Sidratul Muntahaa dalam Surat al-Najm itu dengan “lote tree of the fartbest limit” (pohon lotus pada batas yang terjauh). Dan pohon lotus, dalam kata-kata Indonesia yang lebih “asli” ialah pohon teratai atau seroja.

Tapi lebih penting daripada arti harfiah kata-kata itu ialah makna simboliknya. Pohon lotus, khususnya lotus padang pasir seperti yang terdapat di kawasan Timur Tengah, sudah sejak zaman Mesir kuna dianggap sebagai lambang kebijakasanaan (wisdom).

Maka sebagaimana diterangkan oleh para ahli tafsir, hakikat Sidratul Muntahaa ialah lambang kebijaksanaan tertinggi dan terakhir yang  dapat dicapai seorang manusia pilihan, yang tidak teratasi lagi,  karena tidak ada kebijaksanaan yang lebih tinggi dari itu.

Jadi jika Nabi SAW telah sampai ke Sidratul Muntahaa, artinya ialah Nabi SAW telah mencapai kebijaksanaan atau wisdom yang tertinggi yang pernah dikaruniakan Tuhan kepada hamba atau makhluk-Nya. Nabi pun menerangkan bahwa di balik pohon Sidrah itu ada misteri yang hanya Allah yang tahu.

Makna simbolik lain pohon Sidrah adalah kerindangan dan keteduhan, jadi melambangkan kedamaian dan ketenangan. Dalam Kitab Suci terdapat keterangan bahwa kelak di akhirat tempat kediaman orang-orang yang baik, yang disebut sebagai “Golongan Kanan” (dalam arti Qur’ani, yaitu ashhaabul-yamiin) ialah kediaman yang antara lain mempunyai pohon Sidrah yang berbuah lebat (Q 56:28).

Editor : Kastolani Marzuki

Bagikan Artikel: