Hikmah

Hikmah Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa dalam Alquran

Kastolani · Sabtu, 06 Februari 2021 - 07:30:00 WIB
Hikmah Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa dalam Alquran
Ilustrasi kisah Nabi Khidir as. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Nabi Khidir alaihisalam disebutkan secara implisit oleh Allah dalam Surat al-Kahfi ayat 60-65 dan ayat 82. Berdasarkan hadits-hadits sahih yang dimaksud 'Hamba' dalam ayat tersebut adalah Nabi Khidir yang memiliki nama Balya ibni Malkan.

Kisah Nabi Khidir ini disebutkan dalam Alquran:

{فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا}

Artinya: Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (Al-Kahfi: 65)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa Hamba tersebut adalah Khidir a.s. menurut apa yang ditunjukkan oleh hadis-hadis sahih dari Rasulullah Saw.

Diriwayatkan dari Ubay ibnu Kaab ra, bahwa dia pernah mende­ngar Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya Musa berdiri berkhotbah di hadapan kaum Bani Israil, lalu ia bertanya kepada mereka, Siapakah orang yang paling alim (berilmu)? (Tiada seorang pun dari mereka yang menjawab), dan Musa berkata, Akulah orang yang paling alim."

Maka Allah menegurnya karena ia tidak menisbatkan ilmu kepada Allah. Allah menurunkan wahyu kepadanya, "Sesungguhnya Aku mem­punyai seorang hamba yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan, dia lebih alim daripada kamu."

Musa bertanya, "Wahai Tuhanku bagaimanakah caranya saya dapat bersua dengannya?" Allah Swt. berfirman, "Bawalah besertamu ikan, lalu masukkan ikan itu ke dalam kembu (wadah ikan).

Manakala kamu merasa kehilangan ikan itu, maka dia berada di tempat tersebut." Musa membawa ikan, lalu memasukkannya ke dalam kembu, dan ia berangkat dengan ditemani oleh Yusya ibnu Nun a.s. (muridnya).

Ketika keduanya sampai di sebuah batu besar, maka keduanya merebah­kan diri, beristirahat dan tertidur. Ikan yang berada di dalam kembu itu bergerak hidup, lalu keluar da­ri dalam kembu dan melompat ke laut. Ikan mengambil jalannya di laut dengan membentuk terowongan. Allah menahan aliran air terhadap ikan itu, sehingga jalan yang dilaluinya seperti liang.

Ketika Musa terbangun, muridnya lupa memberitahukan kepadanya tentang ikan yang mereka bawa itu, bahkan keduanya terus melanjutkan perjalanan untuk menggenapkan masa dua hari dua malamnya.

Pada keesokan harinya Musa bertanya kepada muridnya: Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. (Al-Kahfi: 62) Musa masih belum merasa letih melainkan setelah melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah agar dia berhenti padanya.

Editor : Kastolani Marzuki