Terdapat perdebatan di kalangan ulama terkait tafsir ilmi, sebagian menghindari penafsiran yang bernuansa sains dengan alasan bahwa al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan, akan tetapi ia merupakan teks untuk membimbing manusia (hudan li al-nas) pada nilai-nilai tauhid dan moral.
Pada ayat sebelumnya, Allah telah menegaskan peredaran bagi matahari dan pada ayat ini. Bulan juga ditetapkan kadar dan sistem peredarannya di beberapa tingkat atau posisi tertentu (al-manazil).
Istilah “al-manazil” oleh bangsa Arab diartikan sebagai tempat turunnya bintang, dan menurut Zamaksyari, Qurthubi, serta beberapa mufassir lain, menyebut ada 28 al-manazil, yaitu:
Syaratan, Butayn, Tsurya, Dabaran, Haq’ah, Han’ah, Dzira’, Tsanrah, Tarf, Jabhah, Kharatan, Sarfah, ‘Awwa’, Samak, Ghafr, Zubanayan, Iklil, Qalb, Syawlah, Na’a’im, Baldah, Sa’d al-Zabh, Sa’d Bula’, Sa’d Su’ud, Sa’d al-Akhbiyah, Farghr al-Mutaqaddam, Farghr al-Mu’akhkhar, dan Batn al-Haut.
Apabila semuanya sudah dilalui hingga akhir, maka akan kembali ke awal, dan setiap hitungan 2-3 manazil juga akan terjadi gugusan bintang. Ratusan bintang akan berpendar indah menghiasi malam-malam bersama bulan.