Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Teks Khutbah Jumat 16 Oktober 2026 / Jumadil Awal Bikin Merinding, Lengkap Doa Penutup
Advertisement . Scroll to see content

Teks Khutbah Jumat 23 Oktober 2026 Singkat Bikin Menangis: Karhutla dan Dosa Ekologis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:35:00 WIB
Teks Khutbah Jumat 23 Oktober 2026 Singkat Bikin Menangis: Karhutla dan Dosa Ekologis
Ilustrasi teks khutbah Jumat edisi 23 Oktober 2026 tentang karhutla dan dosa ekologis. (Foto: Freepik)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Teks khutbah Jumat edisi 23 Oktober 2026 bertepatan Bulan Jumadil Awal 1448 H bisa menjadi referensi bagi khatib untuk disampaikan ke jemaah shalat Jumat. 

Saat ini, kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi bencana lingkungan yang membutuhkan kepedulian bersama. Sudah saatnya para tokoh agama menyuarakan bahaya karhutla bagi manusia dan lingkungan.

Melalui ceramah, khutbah, dan kegiatan keagamaan, para ulama dan pemuka agama memiliki peran penting dalam mengajak masyarakat menjaga lingkungan serta membantu warga yang terdampak. 

Berikut contoh teks khutbah Jumat singkat bikin menangis tentang karhutla dan dosa ekologis dilansir dari laman kemenag.

Teks Khutbah Jumat 23 Oktober 2026 Singkat Bikin Menangis

 اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Alḥamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT., Rabb al-alamin, Tuhan semesta alam, yang telah menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, menurunkan hujan, menumbuhkan pepohonan, menciptakan flora dan fauna, dan menjadikan bumi ini sebagai hunian yang layak bagi manusia.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasul pilihan, Muhammad SAW., keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Sosok yang tidak hanya membawa risalah tauhid, tetapi juga teladan akhlak ekologis: memperlakukan hewan dengan kasih sayang, merawat tetumbuhan dengan sabda dan tindakannya, hemat dalam menggunakan air, dan melarang perusakan bumi.

Dari atas mimbar yang terhormat ini khatib menyerukan kepada kita semua untuk terus memperbaharui keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Rabbul Jalil. Iman dan takwa yang dilandasi keselarasan hubungan/relasi antara Tuhan, manusia, dan alam. Hubungan vertikal dengan Tuhan disebut hablum minallah, hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas), dan relasi dengan alam sebagai sesama ciptaan Allah dan sarana bagi manusia untuk hidup dan kewajiban mengelolanya (hablun minal 'alam).

Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Kebakaran hutan dan lahan yang lazim disingkat karhutla kembali menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Indonesia. Peristiwa ini seakan membentuk siklus tahunan: ketika musim kemarau tiba, titik api bermunculan, lahan gambut terbakar, kabut asap menyelimuti permukiman, dan masyarakat harus menanggung kerugian kesehatan, ekonomi, serta lingkungan. 

Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan bahwa sampai akhir Juli 2026 karhutla telah terjadi di berbagai provinsi. Hingga 28 Juli 2026, luas lahan terbakar di Riau mencapai 15.372,88 hektare. Di Sumatera Selatan tercatat 520 kejadian dengan luas 664,87 hektare, sedangkan di Kalimantan Tengah luas lahan terbakar mencapai 1.268,33 hektare. Kalimantan Selatan mencatat sekitar 1.029,75 hektare. Angka paling besar dilaporkan di Kalimantan Barat, yaitu 28.680,47 hektare hingga 25 Juli 2026. Data ini menunjukkan bahwa karhutla bukan lagi kejadian lokal, melainkan persoalan nasional yang membutuhkan gerakan bersama.

Karhutla kerap dipandang sebagai akibat langsung dari musim kemarau, suhu tinggi, dan tiupan angin. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi belum menggambarkan akar masalah secara utuh. Cuaca kering memang memperbesar risiko, tetapi api pada umumnya tidak muncul dengan sendirinya. Banyak kebakaran berawal dari aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan membakar, pembuangan puntung rokok, pembakaran sampah yang tidak diawasi, kelalaian di kawasan wisata, atau tindakan sengaja untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Karhutla tidak dapat dipahami hanya sebagai bencana ekologis. Ia juga merupakan persoalan hukum, ekonomi, sosial, dan moral. Pembakaran lahan yang menimbulkan pencemaran udara telah merampas hak masyarakat untuk menghirup udara bersih. Asapnya dapat menyebabkan gangguan pernapasan, menurunkan produktivitas, menghambat kegiatan pendidikan, merusak mata pencaharian, serta mengancam keselamatan anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan. 

Ketika kepentingan ekonomi jangka pendek ditempatkan di atas keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan, karhutla menjadi bentuk kezaliman ekologis. Keuntungan mungkin dinikmati oleh segelintir pihak, tetapi biaya kesehatan, kerusakan lingkungan, dan pemulihannya harus ditanggung oleh masyarakat luas.

Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi. Kedudukan tersebut bukanlah izin untuk mengeksploitasi alam tanpa batas, melainkan amanah untuk memelihara, memanfaatkan secara bertanggung jawab, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya dalam kondisi yang baik. 

Allah SWT mengingatkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena perbuatan tangan manusia. 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41).

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut