Lanjutan Khutbah Jumat Pertama
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Allah telah memberikan alam yang indah kepada manusia. Hutan menyediakan udara, menyimpan air, menjaga tanah dan menjadi tempat hidup berbagai makhluk. Tetapi ketika hutan dibakar sembarangan, ketika pohon ditebang tanpa memperhatikan kelestarian, ketika lingkungan diperlakukan hanya sebagai sumber keuntungan, keseimbangan alam dapat terganggu.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A‘rāf: 56).
Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan sosial. Ia juga merupakan bagian dari amanah agama.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Kita sering menganggap air sebagai sesuatu yang tidak akan pernah habis. Keran dibuka begitu saja. Air dibiarkan mengalir ketika mencuci kendaraan. Sumur dipompa tanpa memperhatikan keadaan lingkungan. Sampah dibuang ke sungai, kemudian ketika banjir atau kekeringan datang kita bertanya, mengapa keadaan semakin sulit?
Rasulullah SAW mengajarkan agar kita tidak berlebihan menggunakan air. Bahkan ketika berwudu, Nabi SAW tidak mengajarkan pemborosan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi SAW melewati Sa’d yang sedang berwudu, lalu Rasulullah bersabda: Sa’d bertanya, “Apakah dalam wudu juga ada pemborosan?” Beliau menjawab: Ya, sekalipun engkau berada di sungai yang mengalir.”(HR. Ibnu Majah).
Lihatlah, jemaah sekalian. Ketika air melimpah pun Rasulullah mengajarkan agar tidak boros. Apalagi ketika saudara-saudara kita sedang mencari air untuk minum, memasak, mandi, memberi minum ternak, dan mengairi sawah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kebakaran hutan dan kekeringan seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh. Ketika langit belum menurunkan hujan, mungkin Allah sedang mengajarkan kepada kita arti sebuah tetes air. Ketika tanah menjadi kering, mungkin Allah sedang mengingatkan bahwa selama ini kita terlalu sering melupakan nikmat-Nya.
Ketika sumber air mengecil, mungkin Allah sedang mengajarkan bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap biasa ternyata merupakan karunia yang luar biasa. Maka jangan hanya meminta hujan turun. Mintalah juga agar hati kita diturunkan hujan rahmat. Jangan hanya berharap tanah kembali basah.
Berharaplah agar hati kita kembali lembut setelah sekian lama mengeras oleh dosa. Jangan hanya takut melihat hutan terbakar. Takutlah ketika dosa-dosa kita terus membakar kehidupan kita, sementara kita tidak pernah merasa perlu bertobat. Allah berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. Al-A’raf: 96)