Alasan Eks ART Erin Wartia Pilih Jalur Damai
JAKARTA, iNews.id – Mantan asisten rumah tangga (ART) Erin Wartia Trigina, Herawati, akhirnya membuka peluang perdamaian di tengah perseteruan yang belakangan menjadi sorotan publik. Meski sempat saling melapor, Herawati mengaku bersedia memaafkan mantan majikannya asalkan ada iktikad baik untuk menyelesaikan persoalan yang ada.
Pernyataan tersebut disampaikan Herawati saat konferensi pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (4/6/2026) malam. Dia hadir didampingi tim kuasa hukumnya untuk menjelaskan sikap terbaru terkait kasus yang melibatkan dugaan penganiayaan dan pencemaran nama baik.
Herawati mengatakan alasan dirinya memilih membuka jalur damai karena ingin permasalahan tersebut segera menemukan penyelesaian. Namun, dia berharap hak-haknya yang masih tertahan dapat terlebih dahulu dikembalikan.
"Ya sebenarnya sih bersedia memaafkan, yang penting kan ada iktikad baiknya dari pihak sana, terus ya dikembalikanlah hak-hak saya," kata Herawati.
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Harus Perang Lawan Korupsi
Menurut Herawati, sejumlah barang pribadi miliknya hingga kini masih berada di rumah Erin Wartia. Selain itu, dia juga meminta sisa gaji selama 28 hari bekerja dapat segera diberikan.
"Saya mintanya ya haknya saya, kayak handphone, gaji yang 28 hari gitu, sama baju saya, dompet saya kan masih ada di sana semua," tegasnya.
Latihan Otot Kaki Bisa Bakar Banyak Kalori dan Picu Hormon Penting, Begini Kata Dokter
Kuasa hukum Herawati, Deolipa Yumara, menilai konflik yang terjadi sebenarnya masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Dia menyebut perselisihan tersebut berawal dari kesalahpahaman antara pemberi kerja dan pekerja.
"Saya menganggap ini sebenarnya persoalan yang masih bisa diselesaikan secara baik. Jadi ini artinya adalah kesalahpahaman biasa antara pemberi kerja dengan pekerja," ujar Deolipa.
Lomba Mewarnai di Yogyakarta Dorong Kreativitas dan Tumbuh Kembang Anak
Sementara itu, kuasa hukum lainnya, Natalius Bangun, menegaskan bahwa perdamaian hanya dapat terwujud apabila kedua belah pihak sepakat untuk saling mencabut laporan polisi. Selain itu, hak-hak Herawati juga harus dipenuhi sebagai bagian dari kesepakatan damai.
"Bilamana kemudian perdamaian yang dimaksud dapat disepakati, ya salah satunya tentu saling cabut laporan masing-masing, saling memaafkan, kemudian apa yang menjadi hak klien kami diberikan," kata Natalius.
Meski memilih membuka pintu damai, Herawati mengaku masih menyimpan trauma atas kejadian yang dialaminya. Bahkan, dia mengaku belum siap kembali bekerja sebagai ART karena takut mengalami perlakuan serupa dari majikan lain.
"Sangat trauma saya. Takutnya dapat majikan yang main tangan lagi. Saya belum siap kerja sekarang. Terus kayak udah malu, kan dia udah main buka-bukaan di media kan tentang kejelekan saya," ujar Herawati.
Editor: Dani M Dahwilani