Di Balik Empati, Dedi Mulyadi Ungkap Fakta Ketidakjujuran Kakek Penjual Es Gabus
“Bapak ini empat bulan apa sebulan sekolahan belum bayarannya? Sebulan. Berarti 200 dong, bukan sejuta setengah. Jangan ngarang. Kalau ingin hidup maju harus jujur. Kalau kitanya tidak jujur, nanti banyak dapat susah dalam hidupnya,” kata Dedi.
Meski menemukan indikasi ketidakjujuran, Dedi Mulyadi tidak serta-merta menarik empatinya. Dia tetap memberikan bantuan besar dengan total mencapai Rp10 juta. Bantuan itu meliputi pembayaran kontrakan satu tahun sebesar Rp9,6 juta, pelunasan utang beras Rp200.000, tunggakan sekolah Rp200.000, serta tambahan modal usaha tunai Rp2 juta.
Menariknya, Dedi memilih tidak menyerahkan sebagian besar bantuan secara langsung. Dia menginstruksikan stafnya membayarkan kewajiban tersebut langsung kepada pihak terkait demi mencegah penyalahgunaan.
“Bayaran sekolahnya saya cek dulu, Pak. Kontrakannya akan saya bayarin setahun langsung ke kontrakannya. Saya nggak percaya sama bapak ini bayar kontrakan sama sekolah. Sama bayar ke warungnya langsung nanti staf saya yang bayarin. Nah, ini aja buat modal Bapak dua juta,” kata Dedi.
Editor: Dani M Dahwilani