Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kronologi Dugaan Penipuan Trading Kripto, Korban Tergiur Konten Flexing Timothy Ronald
Advertisement . Scroll to see content

Korban Dugaan Penipuan Timothy Ronald Ungkap Selain Alami Rugi juga Diintimidasi

Sabtu, 17 Januari 2026 - 15:10:00 WIB
Korban Dugaan Penipuan Timothy Ronald Ungkap Selain Alami Rugi juga Diintimidasi
Tak hanya merugi secara finansial, sejumlah korban kripto Timothy Ronald mengaku mendapat intimidasi ketika menyampaikan keluhan. (Foto: Dok Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Influencer kripto Timothy Ronald dilaporkan ke aparat penegak hukum oleh sejumlah peserta program kelas berbayar yang mengaku mengalami kerugian finansial hingga tekanan psikologis. Para korban menilai program investasi yang dipromosikan Timothy tidak sesuai dengan janji awal yang ditawarkan kepada peserta.

Perwakilan korban, Younger dan Said, mengungkapkan kronologi kasus tersebut saat hadir sebagai narasumber dalam podcast milik Denny Sumargo. Dalam kesempatan itu, turut hadir pakar keuangan Gema Goeyardi yang memberikan pandangan kritis terkait praktik edukasi dan investasi kripto yang dinilai bermasalah.

Para korban mengaku awalnya tertarik bergabung karena iming-iming fasilitas premium, seperti coaching secara personal, pendampingan intensif, hingga potensi keuntungan tinggi. Namun setelah membayar biaya keanggotaan yang disebut mencapai Rp50 juta, layanan yang dijanjikan tidak pernah mereka rasakan.

"kita dibimbing langsung (tatap muka) enggak, tapi kalo di discord enggak. Harusnya bisa curhat lah, kalau kita rugi nih solusinya seperti apa. Padahal dijanjiinnya seperti itu (tertulis)," ujar korban Younger.

Kekecewaan korban semakin bertambah ketika mereka mengikuti arahan mentor untuk membeli dan menahan aset kripto tertentu, salah satunya koin Manta. Alih-alih mendapatkan keuntungan, nilai aset tersebut justru mengalami penurunan tajam hingga menyebabkan kerugian besar bagi banyak peserta.

Tak hanya merugi secara finansial, sejumlah korban juga mengaku mendapat intimidasi ketika menyampaikan keluhan atau berencana keluar dari program. Ancaman yang diterima mulai dari kekerasan fisik hingga serangan siber berupa doxing, sehingga sebagian korban memilih bungkam sebelum akhirnya berani bersuara bersama korban lainnya.

"Buzzer-buzzernya tuh nge-DM, WA, terus di komen ya dikata-katain lah. Goblok ngapain all in, fomo, segala macem. Pantesan rungkad," ujar korban Said.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut