Lia Mustafa, Afif Syakur dan Phillip Iswardono Gelar Fashion Show di Tebing Breksi, Usung Wastra Nusantara

Rizqa Leony Putri · Sabtu, 05 September 2020 - 22:00 WIB
Lia Mustafa, Afif Syakur dan Phillip Iswardono Gelar Fashion Show di Tebing Breksi, Usung Wastra Nusantara

Para model memamerkan koleksi dari Lia Mustafa. (Foto: YouTube)

JAKARTA, iNews.id – Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat para desainer untuk berkreasi. Itu pula yang dilakukan tiga desainer ternama Lia Mustafa, Afif Syakur dan Phillip Iswardono dengan memeriahkan ajang Cultural Fashion Virtual Fest 2020.

Dalam acara yang digelar di Tebing Breksi, Slemen, Yogyakarta, Sabtu (5/9/2020), Lia mememarkan koleksi bertajuk ‘Hidden of The Mask’. Koleksi ini terinspirasi dari situasi pandemi Covid-19 yang membuatnya harus maksimalkan kain-kain yang ada.

Dia kemudian memanfaatkan kain tersebut dengan teknik redesign dan recycle dari desain yang sudah ada sebelumnya. Desain yang diambil pun juga berasal dari cerita magis yang ada di seputaran keraton.

Seperti diketahui, Kesultanan Yogyakarta dan Cirebon menyebarkan syiar dan sosialisasi batik lewat tari topeng. Menurutnya, paduan tradisi tersebut memiliki kesamaan akulturasi dan tradisi yang mempunyai hubungan sangat kental.

"Awal muasalnya dari zaman Kerajaan Mataram, yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo di mana permaisuri beliau adalah putri Panembahan Ratu II Sultan Cirebon atau Sultan Girilaya. Maka beliau pun dimakamkan di Girilaya Imogiri," tutur Lia dalam keterangannya pada fashion show virtual, Sabtu (5/9/2020).

Koleksinya ini mengusung seri 'Evening Modest Look' yang dibawakan dalam delapan outfit. Lia menyajikan style elegan, serta etnik modern melalui kain batik dengan motif topeng, liris alun, dan parang dalam nuansa warna merah dan hitam.

Lia menjelaskan bahwa terdapat makna spiritual yang terkandung dalam koleksinya kali ini. Di mana saat ini banyak kerusakan dan penderitaan yang harus ditanggung akibat keserakahan manusia, semata-mata karena terabaikannya keinginan yang mendasar, yaitu kebahagiaan yang spiritual.

"Sprituality adalah respresentasi dari hakekat impian umat manusia, yaitu bersama-sama hidup rukun, bahagia, damai dan sejahtera, serta berusaha menyeimbangkan kedamaian di bumi yang sedang luruh dan mungkin terwujud apabila setiap manusia bisa saling menghargai dan saling berbagi. Tidak ada permusuhan dan persaingan, pastinya sangat menghargai bumi dan Sang Pencipta," kata Lia.

Sementara itu, Phillip Iswardono dan Afif Syakur juga ikut berpartisipasi di ajang ini. Keduanya membawakan koleksi terbaru yang sangat mencuri perhatian pencinta mode.

Phillip berkesempatan memamerkan koleksi 'Artisanal - Sustainable Value' miliknya yang terinspirasi dari eksplorasi keragaman wastra tenun NTT, ulos, tenun Lombok, serta tenun ikat Sumbawa. Koleksinya tersebut dikemas dengan teknik zero waste, tanpa memotong kain sehingga motif tetap terlihat utuh.

Dia mengombinasikan kain tersebut dengan tenun lurik khas Klaten dan siluet oversize. Terinspirasi dari busana-busana daerah Indonesia, seperti Jawa, Sulawesi, Sumatera, Flores dan NTT, koleksi Phillip dikemas dengan gaya sarung yang urban dan kekinian.

Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharja. Dalam sambutannya, dia berterima kasih kepada desainer yang telah hadir. Menurutnya, sampai saat ini ranah fashion merupakan suatu kekayaan yang dapat menjadi daya tarik bagi pariwisata Yogyakarta.

"Begitu kayanya Indonesia atas produk-produk fashion dan ini adalah suatu kekayaan yang luar biasa dan menjadi daya tarik pariwisata," kata Singgih, Sabtu (5/9/2020).

Sementara itu, Afif Syakur membawa koleksinya yang bertajuk 'Saffron - Afif's Batik'. Koleksinya ini merupakan busana Muslim pria dan wanita dalam bebrapa jenis cuttingan.

Mengusung nama salah satu bunga, yakni saffron, Afif mengemas koleksinya dalam bentuk yang sederhana dan indah dengan konsep ready-to-wear. Dengan sudut pandang mode edgy Islami, dia menampilkan busana Muslim dengan adaptasi Timur Tengah yang dipadu dalam budaya lokal Islami dan serat kain yang sesuai dengan iklim tropis Indonesia.

Nuansa koleksinya terdiri dari warna muda yang bergradasi dan motif alam atau flora. Motif tersebut kemudian disederhanakan dan diaplikasikan dalam ornamen batik dengan bentuk busana Muslim.

Istri Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Paku Alam X, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam berharap rangkaian pergelaran busana ini dapat membantu jalannya roda perekonomian. Sebab di era ini, bidang fashion memiliiki masa depan yang baik.

Meski kental dengan sentuhan perkembangan teknologi yang cepat, dia tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak meninggalkan kearifan lokal yang ada. Dia menekankan untuk terus mempertahankan sentuhan kearifan lokal dalam fashion yang digunakan masyarakat, khususnya di Yogyakarta.

"Ekonomi kreatif itu perlu sekali, salah satunya di bidang fashion. Karena bidang fashion memiliki masa depan yang luar biasa dan bagus, tapi kita sebagai masyarakat Yogyakarta harus tidak meninggalkan adat istiadat, tradisi, atau local wisdom. Fashionnya harus fashionable yang local wisdom," tuturnya.

Editor : Tuty Ocktaviany