Mengenal Alim Ulama, Sang Pewaris Para Nabi

Rizqa Leony Putri ยท Selasa, 15 September 2020 - 20:20 WIB
Mengenal Alim Ulama, Sang Pewaris Para Nabi

Kyai Misbah bicara soal posisi ulama. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Ulama dikenal sebagai orang yang mumpuni untuk menjawab segala persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Posisinya sering kali disebut sebagai pewaris para Nabi.

Hal ini dijelaskan oleh KH Misbahul Munir (Kyai Misbah) di mana ketika berbicara mengenai ulama, haruslah terlebih dahulu mengetahui maknanya. Mengapa kemudian ulama mempunyai posisi yang tinggi di hadapan Nabi Muhammad SAW, bahkan disebut sebagai pewaris para Nabi.

"Kalau posisi yang tertinggi dalam Islam itu kita kenal dengan Nabi. Maka kalau kita menyebut ulama itu setelah tidak ada Nabi Muhammad SAW," tutur Kyai Misbah, seperti dikutip dari Kiswah, iNews pada Selasa (15/9/2020).

Menurut Kyai Misbah, posisi ulama disebut sebagai pewaris Nabi, sebab keberadaannya turut berperan penting setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, lanjut Kyai Misbah, Allah SWT akan mengangkat derajat para ulama lebih dari orang-orang yang beriman.

"Allah SWT akan mengangkat derajat orang yang beriman. Termasuk yang diangkat melebihi orang yang beriman adalah orang-orang yang diberi ilmu (ulama)," kata Kyai Misbah.

Bahkan, Sayyidina Ibnu Abbas menyampaikan bahwa derajat orang mukmin dengan ulama memiliki perbedaan hingga 700 derajat. Di mana antar derajatnya dapat ditempuh selama 500 tahun.

"Derajat orang mukmin dengan ulama itu perbedaannya 700 derajat. Di mana satu derajat ke derajat lainnya itu jaraknya ditempuh dengan 500 tahun," ujar Kyai Misbah.

Sementara itu, Ketua Syahamah, KH Khoirul Ansori MA menjelaskan bagaimana seseorang dapat tergolong sebagai ulama. Alim atau ulama merupakan orang-orang yang belajar ilmu agama dan pada taraf tertentu dia akan mengamalkan ilmu tersebut.

"Seseorang yang belajar ilmu agama, kemudian dia sampai pada taraf tertentu dia mengamalkan ilmunya, itu dikatakan ulama," kata Kyai Ansori.

"Tidak ada kemuliaan kecuali kalau kita mewarisi para Nabi, karena tidak ada yang lebih mulia daripada Nabi. Kalau kemudian orang dikatakan alim (ulama) itu suatu kebanggaan tersendiri, tapi tidak semua orang layak disebut alim atau ulama," kata Kyai Ansori.

Editor : Tuty Ocktaviany