Tak Hanya Fashion Item Baru, Masker Kain Jadi Amunisi Para Desainer saat Pandemi Covid-19

Siska Permata Sari ยท Rabu, 24 Juni 2020 - 17:34 WIB
Tak Hanya Fashion Item Baru, Masker Kain Jadi Amunisi Para Desainer saat Pandemi Covid-19

Masker kain jadi amunisi para desainer saat pandemi Covid-19. (Foto: Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Masker kain menjadi hal yang wajib dikenakan ketika keluar rumah di masa pandemi virus corona baru (Covid-19). Berawal dari sebuah alat pencegahan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, kini masker kain hadir sebagai fashion item baru yang dapat dipadupadankan dengan busana yang dipakai.

Apalagi di era new normal, ketika sebagian besar masyarakat sudah mulai beraktivitas di luar rumah. Mulai dari pergi ke kantor, pergi ke mal atau sekadar makan di restoran atau kedai-kedai minuman.

Kehadiran masker kain menjadi peluang bisnis tersendiri bagi para desainer yang sempat mengalami penurunan penjualan di awal adanya pandemi. Hal itu diungkapkan Khairul Fajri Yahya, desainer asal Aceh yang mempunyai label fashion Ija Kroeng.

“Pada saat (awal), itu tidak ada penjualan, lalu kita melihat peluang di wabah corona ini, orang-orang pakai masker kain. Saat itu juga sulit mendapat masker kain, jadi kita buat terobosan. Kita memanfaatkan momen ini untuk memperkuat brand kita. Kita membuat pola baru, pola produksinya yang simpel dan cepat. Kita buat sederhana, sangat simpel, mudah dan fashionable,” kata Khairul dalam diskusi bersama Indonesian Fashion Chamber (IFC) via Zoom, baru-baru ini.

Sejak menjual masker kain, Khairul mengaku brand dan produk utamanya yakni kain sarung, ikut terangkat. “Tahun ini lebih bagus (omzetnya). Kemudian ada satu peluang lagi, ini kan sudah diadakan pernikahan di masjid, jadi kita buat masker inisial pengantin dan dijadikan suvenir, serta itu penjualan bagus sekali,” tuturnya.

Dampak positif masker kain juga dirasakan Phillip Iswardono. Bermula dari membagikan masker kain dengan motif-motif lurik dan batik, desainer ini justru jadi kebanjiran pesanan.

ia bahkan menjual masker kain hingga Rp1 jutaan karena terbuat dari tenun langka. Berkat itu pula, dia sempat ekspor karya-karyanya ke Singapura hingga Australia. Dia juga mengalami kenaikan omzet sebesar 50 persen.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson (foto: AFP)

“Poin saya dalam masa pandemi ini adalah jangan gugup, bawa happy aja, karena nanti juga berakhir. Saya justru menambah tenaga baru. Kemudian efek positif lainnya adalah penenun-penenun saya bisa jalan seperti biasanya. Minimal, saya membantu mereka eksis menjalankan produk mereka, khususnya tenun dan lurik,”katanya.

Cerita sama juga diungkapkan desainer Hannie Hananto dan Riri Rengganis. Semasa pandemi ini, masker kain dengan ragam motif yang fashionable menjadi amunisi mereka dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Ini hal yang awalnya tidak disengaja. Kita hanya membaca apa yang lagi hype di masyarakat. Bisa dikatakan ini marketing gaya baru. Untuk ke depan, saya enggak tahu masker ini tetap ada atau enggak, tetapi tentu ada kenaikan (omzet) yang tak disangka-sangka,” ujar Hannie Hananto.

“Awalnya dari masker kain, akhirnya saya mendapatkan customer baru. (Setelah penjualan sempat lesu), bulan Mei kemarin sudah masuk lagi pesanan baju yang cukup banyak. Kemudian masker belum berhenti orderannya, saya sampai kewalahan, nambah tukang dan kerja sama dengan teman, bagi-bayi kerjaaan lah di masa pandemi ini. Jadi, dampak positif masker kain ini sebagai pancingan yang mendatangkan customer baru sebagai alat marketing,” tutur Riri Rengganis.

Editor : Tuty Ocktaviany