Tak Mau Pikun di Usia 50, Kris Dayanti Pilih Wushu Jaga Fungsi Otak
"Sebelum ikut tanding, saya ketemu dokter tulang dulu, Profesor Nicolaas. Begitu cek bone density (kepadatan tulang) saya bagus di atas rata-rata, 60 persen masih bagus, warna masih hijau di skrin, dokter baru mengizinkan saya untuk boleh ikut championship," katanya.
Menurut Kris Dayanti, olahraga yang dilakukan untuk pertandingan tidak bisa dijalani sembarangan, terutama ketika usia sudah memasuki 50 tahun. Dia menilai pemeriksaan medis penting dilakukan untuk mengantisipasi risiko cedera.
"Jadi memang saya gak bisa sembarangan ikut cabang olahraga apalagi untuk dipertandingkan kalau gak dapet referensi surat dari dokter. Apalagi kalau atlet, setiap mau ikut pertandingan harus ada surat jalan dari dokter," ucapnya.
Selain wushu, Kris Dayanti juga rutin berenang dan melakukan latihan kardio. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari rutinitasnya untuk membantu pemulihan tubuh sekaligus menjaga kemampuan pernapasan.
"Dua kali latihan di sasana wushu, seperti hari ini saya berenang karena untuk recovery. Untuk penyembuhan sakit-sakitnya tuh dengan berenang tuh bagus banget. Selain untuk menyelam, untuk pernapasan diafragma juga dari berenang," ujarnya.
Kombinasi olahraga tersebut, Kris Dayanti berusaha tetap aktif dan bugar meski usianya telah mencapai 50 tahun. Bagi dia, menjaga kesehatan sejak dini menjadi bagian penting agar tetap produktif dan terhindar dari penurunan fungsi tubuh maupun daya ingat.
Editor: Dani M Dahwilani