JAKARTA, iNews.id – Komisi IX DPR RI menggelar rapat bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk membahas maraknya kasus keracunan dalam program makan bergizi gratis yang terjadi di sejumlah daerah.
Dalam rapat tersebut, Kepala BGN Dadan Hindayana memaparkan sejumlah faktor penyebab terjadinya keracunan makanan. Menurutnya, kasus muncul akibat makanan yang tidak steril, penggunaan air dengan kualitas rendah, serta proses distribusi makanan yang memakan waktu cukup lama.
AS Ingin Caplok Greenland, Putin: Itu Bukan Urusan Rusia
“Pak Presiden memerintahkan agar seluruh Sentra Pemberian Program Gizi (SPPG) dilengkapi dengan alat sterilisasi peralatan makan, seperti yang sudah diterapkan di Bandung. Namun saat kami cek, masih ada SPPG yang belum menggunakan air panas untuk mencuci peralatan makan. Padahal, dengan pemanas gas, air bisa mencapai suhu 120 derajat hanya dalam satu menit untuk mensterilkan alat makan,” jelas Dadan.
Ia juga menekankan perlunya peningkatan sanitasi dalam proses memasak. “Kami sudah menginstruksikan agar para pengelola menggunakan air galon untuk memasak demi menjaga kebersihan dan keamanan makanan,” tambahnya.
Menteri HAM Pigai: MBG Baru Seumur Jagung tapi Termasuk Berhasil
Kasus keracunan terakhir diketahui terjadi di SDN 01 Gedong Barat, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Sebanyak 20 siswa mengalami gejala mual, muntah, dan lemas usai menyantap menu makan bergizi gratis pada Selasa pagi. Lima siswa di antaranya sempat dilarikan ke RSUD Pasar Rebo untuk mendapatkan perawatan di instalasi gawat darurat.
BGN: Dapur MBG Polri Punya Alat Rapid Test, Bisa Cegah Keracunan
Kapolsek Pasar Rebo, Kompol I Wayan Wijaya, membenarkan adanya laporan tersebut. “Kami mendapat laporan dari pihak sekolah bahwa sejumlah siswa mengalami mual, muntah, dan pusing. Setelah dicek, memang benar terjadi dugaan keracunan. Saat ini kami sudah memeriksa lima orang saksi, termasuk pihak katering, tukang masak, sekolah, dan pengantar makanan,” ujarnya.
Meski sempat dirawat, seluruh siswa yang mengalami gejala keracunan kini sudah diperbolehkan pulang. Polisi masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebab pasti keracunan tersebut.
Editor: Komaruddin Bagja