3 Pekan Ketenangan Berakhir, Bentrokan Kembali Pecah di Mal-Mal Hong Kong

Nathania Riris Michico ยท Senin, 16 Desember 2019 - 08:27 WIB
3 Pekan Ketenangan Berakhir, Bentrokan Kembali Pecah di Mal-Mal Hong Kong

Polisi Hong Kong berusaha membubarkan pengunjuk rasa di mal New Town Plaza. (FOTO: AFP)

HONG KONG, iNews.id - Polisi Hong Kong menggunakan semprotan merica dan melakukan banyak penangkapan pada Minggu (15/12/2019), ketika kelompok kecil pemrotes pro-demokrasi berpakaian hitam menargetkan beberapa mal di kota itu. Insiden di mal-mal itu mengakhiri jeda kekerasan yang jarang terjadi.

Protes Flashmob dan vandalisme pecah di beberapa lokasi, mendorong polisi anti-huru hara menggunakan semprotan merica dan melakukan penangkapan di setidaknya dua pusat perbelanjaan.

Wartawan AFP di mal, Sha Tin, melihat seorang gadis sekolah menengah dan seorang bocah laki-laki berusia 16 tahun ditangkap. Keduanya meneriakkan identitas mereka ketika para petugas membawa mereka pergi.

Sebelumnya pada Minggu sore, perempuan tua jatuh di mal yang sama usai perkelahian terjadi, saat seorang pembelanja mencoba menghentikan pengunjuk rasa menyemprotkan grafiti.

Aktivis bertopeng juga menghancurkan restoran yang dikelola oleh Maxim's, raksasa katering milik seorang taipan yang sering menjadi sasaran karena putrinya mengkritik gerakan pro-demokrasi.

Kerusuhan ini merupakan pertama kalinya terjadi dalam tiga pekan terakhir.

Hong Kong dilanda protes pro-demokrasi besar-besaran selama enam bulan yang menyebabkan pertempuran sengit antara polisi dan demonstran. Hal ini juga menyebabkan akses transportasi harian terganggu.

Sebulan terakhir aksi kekerasan dan perusakan berhenti setelah partai-partai pro-demokrasi menang telak dalam pemilihan dewan lokal.

Pekan lalu, sekitar 800.000 orang berbaris dengan damai di jalanan.

Namun kemarahan publik tetap muncul saat China dan pemimpin kota Carrie Lam tidak menunjukkan tanda-tanda memberikan konsesi lebih lanjut meskipun pemilu berhasil.

Lam saat ini berada di China untuk kunjungan tahunan dan dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping pada Senin (16/12/2019).

Aksi protes itu awalnya dipicu rencana yang sudah dibatalkan untuk memungkinkan para kriminal diekstradisi ke daratan China. Sejak itu, protes berubah menjadi pemberontakan melawan pemerintahan China.

Para pemrotes juga menuntut penyelidikan independen terhadap polisi serta dan pemilihan umum yang demokratis.

Dalam aksi protes terpisah, sekitar 1.000 orang yang mengibarkan bendera China berkumpul di sebuah taman pada Minggu sore untuk mendukung kepolisian Hong Kong.

Bandara Hong Kong pada Minggu juga melaporkan penurunan penumpang paling tajam dalam satu dekade -turun 16 persen pada November dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Editor : Nathania Riris Michico