Ahli Virus Hong Kong: China Sengaja Tutupi Awal Mula Penyebaran Covid-19

Arif Budiwinarto ยท Selasa, 14 Juli 2020 - 08:56 WIB
Ahli Virus Hong Kong: China Sengaja Tutupi Awal Mula Penyebaran Covid-19

ilustrasi Covid-19: istimewa

NEW YORK, iNews.id - Seorang ahli virolog asal Hong Kong yang melarikan diri ke Amerika Serikat mengatakan China sudah mengetahui infeksi Covid-19 jauh sebelum ditetapkan sebagai pandemi. Namun, otoritas Beijing memaksa semua yang mengetahuinya tutup mulut.

Pengakuan tersebut disampaikan oleh Li-Meng Yan yang memiliki spesialisasi dalam bidang Virologi dan Imunologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Hong Kong. Dalam wawancara dengan jaringan berita Fox News, Jumat (10/7/2020) lalu, Yan mengatakan penelitiannya mengenai penyebaran Covid-19 tidak diperhatikan oleh institusi tempatnya bekerja.

Padahal, kata Yan, jika penelitiannya direspons dengan serius saat pandemi baru saja mulai tak menutup kemungkinan bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Yan juga mengungkap alasannya melarikan diri dari Hong Kong ke Amerika Serikat untuk mencari perlindungan, dia merasa terdorong ikut bertanggung jawab dalam upaya penanganan Covid-19 dari aspek keilmuwan. Sedangkan selama berada di Hong Kong dia merasa tertekan dan selalu dalam pengawasan agar tidak bercerita mengenai Covid-19.

"Alasan saya datang ke AS adalah karena saya menyampaikan pesan kebenaran Covid-19," kata Yan dikutip dari FoxNews, Selasa (14/7/2020).

Dalam penuturannya, Yan menceritakan pernah diminta atasannya, Dr Leo Poon, meneliti sekelompok kasus mirip SARS yang muncul dari daratan China pada tahun lalu. Belakangan, Yan menduga kasus tersebut sebagai cikal bakal Covid-19.

"Pemerintah China menolak untuk membiarkan pakar luar negeri termasuk yang ada di Hong Kong melakukan penelitian di China. Jadi saya berpaling ke teman-teman saya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut," ucapnya.

Dalam mendukung penelitiannya, Yan kemudian menghubungi relasi profesionalnya di lembaga medis China. Ilmuwan kelahiran China itu mendapat informasi penting dari sejawatnya yang bekerja di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di China bahwa kasus-kasus virus yang menyerang pernapasan menyebar dari manusia ke manusia sejak Desember.

Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan yang dikatakan pemerintah China dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di awal Covid-19 muncul pada Desember 2019 bahwa penularan terjadi dari hewan ke manusia.

Yan kemudian menyadari setelah itu para koleganya tak lagi mau membahas perihal penyebaran Covid-19. Mereka semua, lanjut Yan, ditekan agar tidak banyak bicara.

"Saat saya memberitahu atasan, dia cuma mengangguk. Dia kemudian meminta kami terus bekerja."

"Kita tidak bisa membicarakannya, tapi kita perlu pakai masker," lanjutnya.

Sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada Januari lalu, kasus infeksi Covid-19 telah menembus angka 12 juta orang dengan angka kematian telah melewati 300.000 orang di lebih dari 200 negara di dunia.

Akhir pekan kemarin, WHO telah memberangkatkan tim pertama ke China untuk melacak kelahiran Covid-19 yang pertama kali muncul di Pasar Hewan Wuhan, Provinsi Hubei.

Editor : Arif Budiwinarto