Amnesty International Cabut Penghargaan Tertinggi Aung San Suu Kyi

Nathania Riris Michico ยท Selasa, 13 November 2018 - 14:25 WIB
Amnesty International Cabut Penghargaan Tertinggi Aung San Suu Kyi

Aung San Suu Kyi dinobatkan sebagai Duta Hati Nurani Amnesty International pada 2009 sebagai pengakuan atas perjuangan damai dan tanpa kekerasan untuk demokrasi dan hak asasi manusia. (Foto: EPA/KIM HAUGHTON)

NAYPYIDAW, iNews.id - Lembaga pembela hak asasi manusia, Amnesty International, memutuskan mencabut penghargaan tertinggi yang pernah diberikan kepada pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, pada 2009 lalu.

Organisasi yang berbasis di London menyatakan mencabut penghargaan the Ambassador of Conscience Award yang diberikan Suu Kyi saat dia masih dalam tahanan rumah.

Lembaga itu menyebut Suu Kyi tak lagi mewakili simbol harapan, keberanian, dan pembelaan terhadap HAM seperti yang dia lakukan sebelum menjadi pejabat pemerintah.

Salah satu kekecewaan Amnesty International terletak pada bungkamnya Suu Kyi saat kaum minoritas Muslim Rohingya dibunuh dan disiksa oleh militer Myanmar sehingga 700.000 orang Rohingya kabur ke Bangladesh.

"Hari ini, kami sangat cemas bahwa Anda tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian, dan pembelaan abadi hak asasi manusia," kata Sekjen Amnesty International, Kumi Naidoo, dalam sepucuk surat kepada Suu Kyi yang dirilis oleh kelompok tersebut, seperti dilaporkan AFP, Selasa (13/11/2018).

"Amnesty International tidak dapat membenarkan status Anda yang berkelanjutan sebagai penerima penghargaan Duta Besar Nurani dan dengan sangat sedih kami mencabutnya dari Anda."

Amnesty menyatakan pihaknya memberitahu keputusan itu kepada Suu Kyi pada Minggu (11/11/2018). Sejauh ini dia belum memberi tanggapan.

"Pengingkarannya tentang keseriusan dan cakupan kekejaman (terhadap kaum Rohingya) menunjukkan prospek situasinya membaik tergolong kecil," sebut Naidoo.

Pengumuman pencabutan penghargaan Amnesty Internasional terhadap Suu Kyi dikemukakan pada delapan tahun bebasnya perempuan tersebut dari tahanan rumah.

Saat dia bebas pada 2009, Amnesty memberikan penghargaan the Ambassador of Conscience Award atau Duta Nurani kepada Suu Kyi.

Langkah Amnesty sejalan dengan tindakan sejumlah kota dan lembaga lain yang mencabut penghargaan terhadap perempuan 73 tahun tersebut.

Aung San Suu Kyi menjadi pemimpin de facto pemerintahan sipil Myanmar pada 2016. Sejak saat itu, dia menghadapi tekanan internasional untuk mengecam aksi militer terhadap Rohingya.

Namun, dia terus menolaknya.

Dia juga melontarkan pembelaan ketika dua jurnalis kantor berita Reuters dipenjara lantaran tengah menyelidiki pembunuhan kaum Rohingya.

Suu Kyi terakhir kali berbicara kepada BBC pada April 2017. Saat itu dia mengomentari laporan PBB yang menyebut telah terjadi upaya genosida terhadap etnik Rohingya.

"Saya pikir pernyataan pembersihan etnik terlalu kuat untuk menggambarkan apa yang terjadi," ujarnya.

Dalam perkembangan terkini, Pemerintah Myanmar pekan ini akan menerima kelompok pertama pengungsi Rohingya dari Bangladesh.

Namun, pelapor khusus hak asasi manusia PBB untuk Myanmar memperingatkan pengungsi Rohingya menghadapi "risiko tinggi penganiayaan" apabila mereka pulang ke Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Editor : Nathania Riris Michico