AS Akui 11 Tentaranya Alami Gejala Gegar Otak akibat Serangan Rudal Iran

Anton Suhartono ยท Jumat, 17 Januari 2020 - 11:17 WIB
AS Akui 11 Tentaranya Alami Gejala Gegar Otak akibat Serangan Rudal Iran

Pangkalan udara Ain Al Asad, Irak, tempat pasukan AS bermarkas luluh lantak akibat serangan rudal Iran (Foto: AFP)

WASHINGTON, iNews.id - Militer Amerika Serikat (AS) akhirnya mengakui bahwa ada tentara yang terluka akibat serangan rudal Iran di pangkalan militer Irak pada 8 Januari 2020.

Iran menghujani dua pangkalan militer tempat pasukan AS dan koalisi bermarkas, yakni di Ain Al Asad dan Arbil, dengan lebih dari 22 rudal dalam serangan yang berlangsung sekitar 3 jam.

Pusat Komando AS menyatakan, sedikitnya 11 tentara mengalami luka dalam serangan di Ain Al Asad. Awalnya, AS menyebut tak ada korban dalam serangan sebagai balasan atas terbunuhnya jenderal Iran Qasem Soleimani itu.

Baca Juga: Komandan Militer AS di Irak Kisahkan Dahsyatnya Serangan Rudal Iran

"Sementara tidak ada pasukan AS yang terbunuh dalam serangan Iran pada 8Januari di pangkalan udara Al Asad, namun beberapa di antaranya dirawat karena gejala gegar otak akibat ledakan itu dan masih dalam pemeriksaan," kata Juru Bicara Pusat Komando AS, Bill Urban, seperti dikutip dari AFP, Jumat (17/1/2020).

Urban menjelaskan mengapa informasi mengenai adanya korban ini tak segera diketahui. Menurut dia, pagi hari setelah serangan, pasukan yang berada di pangkalan Ain Al Asad langsung dievakuasi sehingga kondisi mereka tak segera diketahui.

"Beberapa tentara diangkut dari Pangkalan Udara Al Asad," katanya.

Baca Juga: Satelit Abadikan Dampak Serangan Rudal Iran ke Irak, Begini Penampakannya

Para korban kini dirawat di fasilitas medis AS di luar Irak. Saat ini ada 11 tentara yang dikirim ke Pusat Medis Regional Landstuhl di Jerman dan Kamp Arifjan, Kuwait, untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelumnya seorang komandan pasukan AS di Irak, Tim Barland, mengisahkan saat markasnya di Ain Al Asad dihujani belasan rudal oleh Iran pada 8 Januari dini hari.

Garland menyebut serangan itu belum pernah terjadi sebelumnya di pangkalan militer Irak mana pun dan dia tidak percaya Iran nekat melakukannya.

Menurut dia, pukul 23.00 pasukan AS dan koalisi telah dievakuasi dari barak dan kantor untuk bersembunyi di bunker yang tersebar di pangkalan. Mereka sempat menunggu di bunker dalam kondisi tegang selama 2 jam. Setelah itu, suara ledakan pertama terdengar sangat keras.

"Ketika serangan pertama terjadi, itu merupakan suara paling keras, paling kuat, yang pernah saya dengar," kata Garland.

Dia bisa merasakan kekuatan rudal meskipun berada di bunker yang terlindung sangat kuat jauh di dalam tanah.

"Ada sesuatu yang tidak wajar di udara. Cara rudal itu bergerak, panasnya, dan gelombang kejut yang datang," tuturnya.

Guncangannya juga mendobrak pintu yang tertutup berkali-kali.

Serangan pertama terjadi pada pukul 01.35 dan berlangsung sampai 3 jam berikutnya. Ada lima kali serangan di mana setiap serangan melibatkan beberapa rudal.


Editor : Anton Suhartono