Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : AS Batal Serang Iran, Delegasi 2 Negara Dilaporkan Bertemu di Turki Pekan Ini
Advertisement . Scroll to see content

AS Kerahkan Pasukan Luar Angkasa ke Semenanjung Arab, Ada Apa?

Senin, 21 September 2020 - 14:52:00 WIB
 AS Kerahkan Pasukan Luar Angkasa ke Semenanjung Arab, Ada Apa?
Amerika Serikat membuat pangkalan Angkatan Luar Angkasa di Qatar (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

DUBAI, iNews.id - Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat, unit militer keenam AS yang baru dibentuk, dikerahkan ke Semenanjung Arab.

Unit militer pecahan dari Angkatan Udara itu kini memiliki skuadron terdiri dari 20 penerbang yang ditempatkan di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, sebagai misi luar negeri pertamanya.

Lantas, apa alasan Angkatan Luar Angkasa AS memilih Arab sebagai basis pangkalannya?

Direktur Pasukan Angkatan Luar Angkasa di Al Udeid Todd Benson menjelaskan, pengerahan ini bertujuan untuk membantu pertahanan negara-negara sekutu dari ancaman pihak lain.

"Kami mulai melihat negara-negara lain sangat agresif dalam mempersiapkan untuk memperluas konflik ke luar angkasa. Kami harus mampu bersaing dalam mempertahankan serta melindungi semua kepentingan nasional kami," kata Benson, dikutip dari The Associated Press, Senin (21/9/2020).

Saat ini, AS menghadapi ancaman baru di wilayah tersebut terkait program rudal Iran serta upaya untuk mengganggu, meretas, dan membutakan satelit.

Dalam upacara pelantikan pada awal bulan ini di Al Udeid, 20 prajurit Angkatan Udara AS resmi dinyatakan masuk ke Angkatan Luar Angkasa. Dalam waktu tak lama, beberapa prajurit lain akan bergabung dengan unit operator luar angkasa yang bertugas menjalankan satelit, melacak manuver musuh, serta berupaya menghindari konflik di luar angkasa.

“Misi ini bukan hal baru dan orang-orangnya juga belum tentu baru,” kata Benson, merujuk bahwa jajarannya sudah berpengalaman bertugas di Timur Tengah.

Ancaman dari pesaing global meningkat sejak Perang Teluk pada 1991, saat itu militer AS pertama kali mengandalkan koordinat GPS sebagai informasi untuk memberi tahu posisi pasukan di gurun.

Sementara itu Benson menolak menyebut negara-negara agresif yang akan dipantau oleh para personelnya. Namun keputusan untuk mengerahkan personel Angkatan Luar Angkasa di Al Udeid dibuat berdasarkan perkembangan ketegangan selama beberapa bulan terakhir antara AS dan Iran.

Pada musim semi ini, Garda Revolusi Iran meluncurkan satelit militer pertamanya ke luar angkasa. Para ahli yakin pengiriman satelit itu merupakan program militer luar angkasa militer yang rahasia.

Sementara itu Pemerintahan Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi baru terhadap badan antariksa Iran dengan alasan negara itu tengah mengembangkan rudal balistik di bawah kedok program sipil mengirim satelit ke orbit.

Selain Iran, negara lain seperti Rusia dan China juga menjadi ancaman di luar angkasa. Rusia dan China mengalami kemajuan pesat dan menjadi ancaman nyata.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper memperingatkan Rusia dan China sedang mengembangkan senjata yang dapat melumpuhkan satelit AS serta berpotensi menyebarkan puing-puing berbahaya di luar angkasa yang dampaknya bisa berpengaruh melumpuhkan sinyal ponsel serta informasi cuaca. Ancaman lain bisa berdampak pada pengoperasian drone, jet tempur, kapal induk, bahkan pemantau senjata nuklir.

“Militer sangat bergantung pada komunikasi satelit, navigasi, dan peringatan rudal global,” kata Ryan Vickers, seorang personel Angkatan Luar Angkasa AS di Al Udeid.

Pasukan AS, lanjut dia, menggunakan koordinat GPS untuk melacak kapal yang melewati jalur strategis di Teluk untuk memastikan mereka tidak lari ke perairan internasional negara lain.

Iran diduga telah mengganggu sinyal satelit dan radio selama bertahun-tahun untuk memblokir saluran media asing yang berbasis di Farsi agar tidak masuk dan disaksikan rakyatnya. Semua stasiun televisi dan radio di Iran dikontrol ketat oleh pemerintah.

Otoritas penerbangan federal AS (FAA) juga memperingatkan pesawat komersial yang melintas di atas Teluk Persia berpotensi mengalami gangguan komunikasi akibat ulah Iran.

Kapal-kapal yang berlayar di Teluk juga melaporkan komunikasi 'palsu' dari entitas tak dikenal, mereka mengklaim sebagai kapal perang AS atau pasukan koalisi.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut