AS Setop Ekspor Senjata ke Hong Kong

Ahmad Islamy Jamil · Selasa, 30 Juni 2020 - 12:33 WIB
AS Setop Ekspor Senjata ke Hong Kong

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. (Foto: AFP)

WASHINGTON DC, iNews.idAmerika Serikat memutuskan untuk mengakhiri ekspor senjata atau alat pertahanan sensitif ke Hong Kong. Langkah tersebut semakin meningkatkan tekanan Washington DC secara berturut-turut terhadap daerah otonomi China yang juga menjadi salah satu pusat keuangan global itu.

AS mengumumkan keputusan itu beberapa jam setelah China menyatakan akan membatasi visa untuk beberapa orang Amerika yang bepergian ke Hong Kong. Kebijakan Beijing itu sendiri sebenarnya sebagai balasan terhadap langkah AS yang juga membatasi visa para pejabat China yang bepergian di negeri Paman Sam.

Amerika Serikat telah memimpin protes global atas penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional di Hong Kong—yang menurut para aktivis Hong Kong akan menghancurkan kebebasan kota itu.

“Kami tidak bisa lagi membedakan antara ekspor barang-barang yang dikendalikan ke Hong Kong atau ke daratan Cina. (Karena itu) kami tidak bisa mengambil risiko barang-barang ini jatuh ke tangan Tentara China, yang tujuan utamanya adalah untuk menegakkan kediktatoran Partai Komunis China dengan segala cara,” kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam sebuah pernyataan yang dikuitp AFP, Selasa (30/6/2020).

Departemen Luar Negeri AS pada tahun lalu menyetujui penjualan alat-alat pertahanan ke Hong Kong senilai 2,4 juta dolar AS. Sebanyak 1,4 juta dolar AS telah terealisasi, antara lain mencakup senjata api beserta amunisi untuk kepentingan penegakan hukum di Hong Kong.

Departemen Perdagangan AS secara bersamaan juga mengatakan, mereka mencabut status khusus untuk Hong Kong. Mulai sekarang, lembaga itu akan memperlakukan daerah bekas jajahan Inggris itu sama dengan China dalam hal pengadaan alat-alat pertahanan dan keamanan untuk militer dan sipil. Selama ini, Amerika memang sangat membatasi penjualan alat-alat semacam itu ketika dicari oleh Beijing.

China pernah menjanjikan otonomi yang besar bagi Hong Kong, sebelum Inggris mengembalikan wilayah itu ke Beijing pada 1997. Janji itu tertuang dalam Sino-British Joint Declaration atau Deklarasi Bersama Tiongkok-Inggris pada 1985. Akan tetapi, protes besar-besaran kelompok prodemokrasi mengguncang Hong Kong tahun lalu, dan membuat China semakin berperilaku sentralistik terhadap wilayah itu.

“Keputusan (penghentian ekspor senjata ke Hong Kong) ini tidak menyenangkan bagi kami. (Tapi) ini merupakan konsekuensi langsung dari keputusan Beijing yang telah melanggar komitmennya sendiri di bawah Deklarasi Bersama Tiongkok-Inggris yang terdaftar PBB,” kata Pompeo.

Editor : Ahmad Islamy Jamil