Australia Alami Hari Paling Mematikan selama Pandemi Covid-19
CANBERRA, iNews.id - Australia mencatat jumlah kematian terburuk dalam sehari sejak Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi. Di hari yang sama, Australia juga mengalami peningkatan kasus infeksi hingga lebih dari 400.
Otoritas berwenang melaporkan pada hari Minggu (26/7/2020) waktu setempat di Australia terdapat 10 kematian baru dalam dalam 24 jam. Dengan tambahan ini jumlah kematian di Benua Kangguru menjadi 155 sejak Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi pada Januari lalu.
Dikutip dari AFP, Senin (27/7/2020) dini hari WIB, angka kematian akibat Covid-19 diatas merupakan yang tertinggi pernah terjadi di Australia dalam kurun waktu sehari.
Perdana Menteri Australia, Daniel Andrews, mengatakan 10 orang yang meninggal kemarin berusia antara 40-80 tahunan, dengan tujuh diantaranya meninggal di fasilitas perawatan lansia.
Pandemi Covid-19 Terkini: Amerika Memburuk, Australia Hadapi Gelombang Kedua
Di hari yang sama, Australia mendapat tambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 450 sehingga jumlah infeksi di negara benua itu menyentuh angka 14.403.
Australia sempat menuai pujian dalam penanganan Covid-19 yang dianggap lebih baik daripada negara-negara maju lainnya seperti Inggris, Spanyol, Italia, dan Amerika Serikat yang paling terdampak pandemi.
Badai Landa Pantai Timur Australia, Beberapa Rumah Warga Terban ke Laut
Namun, sejak pelonggaran aturan karantina wilayah (lockdown) pada akhir Juni lalu, Australia menghadapi gelombang kedua Covid-19. Melbourne dan Victoria menjadi dua kota dengan penambahan kasus Covid-19 tertinggi setiap harinya. Pada hari Minggu (26/7) kemarin, Victoria terdapat 495 kasus baru, naik dari hari Sabtu (25/7) yakni 357 kasus.
Pemerintah Australia sebenarnya sudah cukup ketat melakukan pengawasan terhadap perilaku warga agar menjalankan protokol kesehatan dengan mamakai masker serta menjaga jarak.
Cetak Rekor, Jumlah Pengangguran di Australia Hampir 1 Juta Orang
"Hal-hal ini berubah dengan cepat, tetapi kita harus mengatakan bahwa angka-angka ini terlalu tinggi," kata PM Australia, Daniel Andrews.
Editor: Arif Budiwinarto