Borong 32 Helikopter Black Hawk, Filipina Gelontorkan Rp9 Triliun

Ahmad Islamy Jamil · Rabu, 23 Februari 2022 - 02:09:00 WIB
Borong 32 Helikopter Black Hawk, Filipina Gelontorkan Rp9 Triliun
Penampakan helikopter Black Hawk yang digunakan oleh militer Amerika Serikat (ilustrasi). (Foto: AP)

MANILA, iNews.idFilipina pada Selasa (22/2/2022) menandatangani kesepakatan senilai 624 juta dolar AS (hampir Rp9 triliun) untuk pembelian 32 helikopter Black Hawk. Itu bakal menjadi kontrak akuisisi terbesar untuk kendaraan tempur udara di era pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte yang bakal berakhir masa jabatannya.

Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, menandatangani kesepakatan dengan Janusz Zakrecki selaku presiden produsen kedirgantaraan PZL Mielec yang berbasis di Polandia, untuk memperoleh 32 unit S-70i Black Hawks. Ke depan, heli itu dapat digunakan untuk transportasi pasukan, operasi tempur, dan tanggap bencana. 

Kesepakatan yang diteken antara Manila dan PZL Mielec itu sudah mencakup paket pelatihan untuk para pilot serta kru pemeliharaan dan cadangan logistik, ungkap Juru Bicara Departemen Pertahanan Nasional Filipina, Arsenio Andolong.

Lorenzana mengatakan, butuh waktu cukup panjang bagi Departemen Keuangan Filipina untuk mengalokasikan anggaran pembelian heli itu—yang kini sudah ditandatangani Duterte. Dia pun sempat khawatir karena masa jabatan enam tahun presiden bakal berakhir pada 30 Juni tahun ini.

“Kami nyaris tidak berhasil. Saya pikir kami tidak akan berada di sini lagi untuk menerima helikopter-helikopter ini. Tetapi kami akan senang melihat peningkatan kemampuan Angkatan Udara Filipina,” ujar Lorenzana seperti dikutip The Associated Press, kemarin.

Karena kendala keuangan, Filipina harus bekerja keras selama bertahun-tahun untuk memodernisasi militernya. Saat ini, anggota ASEAN tersebut menjadi salah satu negara yang paling minim anggaran militernya di kawasan Asia. Padahal, Filipina harus menghadapi ancaman pemberontakan dalam negeri selama puluhan tahun, di samping mempertahankan wilayahnya di Laut China Selatan yang disengketakan.

Editor : Ahmad Islamy Jamil

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda