Burkina Faso Dilanda 2 Kali Kudeta Militer dalam 8 Bulan, Begini Respons AS

Anton Suhartono · Minggu, 02 Oktober 2022 - 06:05:00 WIB
Burkina Faso Dilanda 2 Kali Kudeta Militer dalam 8 Bulan, Begini Respons AS
Paul-Henri Damiba digulingkan oleh kelompok militer Ibrahim Traore dalam kudeta Burkina Faso (Foto: Reuters)

WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) mengecam kudeta di Burkina Faso. Militer menggulingkan pemerintahan sah pada Jumat (30/9/2022) setelah terjadi insiden di ibu kota. 

Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan Washington DC prihatin dengan kudeta yang berlangsung dua kali dalam 8 bulan terakhir.

“Kami mencatat bahwa untuk kedua kalinya dalam 8 bulan, perwira militer telah menegaskan bahwa mereka membubarkan pemerintah dan Majelis Nasional serta menangguhkan konstitusi. Kami bersama dengan mitra kami di ECOWAS, Uni Afrika, dan Uni Eropa mengecam tindakan ini serya kekerasan yang sedang berlangsung," kata Price, dikutip dari Sputnik, Minggu (2/10/2022).

Kudeta ini, lanjut dia, merusak agenda yang telah disepakati untuk kembali ke pemerintahan sipil yang dipilih secara demokratis.

Dia juga mendesak pihak-pihak bertanggung jawab untuk meredakan situasi.

"Amerika Serikat sangat prihatin dengan peristiwa di Burkina Faso," kata Price, seraya menambahkan pemerintahannya memantau dengan cermat situasi yang berubah-ubah seraya kami menyerukan agar semua pihak terlibat untuk menahan diri.

Media Burkina Faso melaporkan, Paul-Henri Sandaogo Damiba, pemimpin sementara militer yang berkuasa setelah kudeta pada Januari 2022, digulingkan oleh sekelompok militer lainnya yang dipimpin Ibrahim Traore. 

Kelompok Traore juga menangguhkan konstitusi dan menutup perbatasan.

Sekjen PBB Antonio Guterres, Ketua Komisi Uni Afrika (AUC) Moussa Faki Mahamat, dan Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS), juga mengecam pengambilalihan kekuasaan secara paksa di Burkina Faso.

Sementara itu Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Prancis membantah telibat dalam eskalasi di Burkina Faso. Pernyataan ini dikeluarkan setelah pemimpin yang digulingkan, Paul-Henri Sandaogo Damiba, meminta perlindungan di sebuah pangkalan militer Prancis.

Editor : Anton Suhartono

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda