Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, China Ogah Diseret-seret
Advertisement . Scroll to see content

China Belum Mau Pakai Pesawat Boeing 737 Max meski Sudah Dijamin Aman

Jumat, 20 November 2020 - 13:50:00 WIB
China Belum Mau Pakai Pesawat Boeing 737 Max meski Sudah Dijamin Aman
Pesawat Boeing 737 Max maskapai China Southern Airlines dikandangkan (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

BEIJING, iNews.id - China belum mengizinkan pesawat Boeing 737 Max mengudara di negara itu meskipun otoritas penerbangan Amerika Serikat (AS) FAA sudah mencabut larangan terbang pesawat ini.

Pesawat 737 Max dikandangkan selama 20 bulan di seluruh dunia menyusul dua kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan 346 orang.

Sejak itu, Boeing melakukan sejumlah pengembangan keamanan terhadap 737 Max sebagai syarat mendapat persetujuan dari regulator penerbangan seluruh dunia.

Otoritas penerbangan sipil China CAAC belum menentukan sampai kapan penerbangan 737 Max bisa dimulai kembali, seperti dikutip dari AFP, Jumat (30/11/2020).

China merupakan salah satu negara pengguna 737 Max terbanyak sehingga keputusan CAAC bisa memukul bisnis Boeing.

Negara itu juga yang pertama menghentikan penerbangan 737 Max menyusul dua kecelakaan tersebut.

CAAC menilai, hasil investigasi kecelakaan maut di Indonesia dan Ethiopia harus dijelaskan dan perbaikan desain pesawat harus efektif dan mendapat persetujuan.

Direktur CAAC Feng Zhenglin pada Oktober lalu mengatakan, China menghentikan pengoperasian pesawat itu karena menerapkan tak ada toleransi terhadap potensi bahaya.

Seperti diketahui FAA pada Rabu lalu menyetujui kembali operasional penerbangan komersial 737 Max.

Menurut FAA, Boeing telah memperbaiki kecacatan pada sistem anti-stall yang disebut MCAS, pemicu dua kecelakaan pesawat Lion Air dan Etihopian Airlines pada 2018 dan 2019.

Boeing pada pekan lalu menyatakan China harus membeli lebih dari 8.600 pesawat yang nilainya mencapai 1,4 triliun dolar AS dalam 20 tahun mendatang. Hal itu didasarkan atas meningkatkan volume penerbangan domestik di China setelah pulih dari pandemi Covid-19.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut