China Klaim Warganya Jadi Target Pembunuhan dan Diskriminasi di Jepang
BEIJING, iNews.id - Ketegangan China-Jepang kembali memanas setelah Beijing mengeluarkan larangan perjalanan ke Jepang dan menegaskan bahwa warganya semakin sering menjadi target diskriminasi hingga kejahatan serius di Negeri Sakura.
Pemerintah China menyatakan, peningkatan ancaman terhadap keselamatan warga negaranya merupakan alasan utama di balik pembaruan nasihat perjalanan yang diumumkan pada Rabu (26/11/2025), di samping memanasnya gejolak politik kedua negara terkait isu Taiwan.
Langkah ini diambil di tengah perselisihan diplomatik terkait Taiwan, terutama setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan kesediaan membantu Taiwan jika diserang China. Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari Beijing.
Lonjakan Laporan Diskriminasi dan Ancaman Keselamatan
Kedutaan Besar (Kedubes) China di Tokyo mengungkap peningkatan signifikan dalam permintaan bantuan dari warga China yang melaporkan perlakuan diskriminatif selama berada di Jepang.
“Kasus-kasus terkait diskriminasi melonjak terutama pada November,” bunyi pernyataan kedubes, dalam masihat perjalanan.
Otoritas China menilai situasi keamanan di Jepang memburuk dan tidak lagi menjamin keselamatan warga mereka.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China, Mao Ning, menegaskan kejahatan yang menargetkan warga China semakin sering terjadi.
“Keamanan publik di Jepang tidak begitu baik saat ini. Kasus kriminal yang menargetkan warga China sering terjadi,” ujarnya, seperti dikutip dari Kyodo, Jumat (28/11/2025).
Dia mendesak pemerintah Jepang mengambil tindakan nyata untuk memastikan keselamatan warga China yang berada di negara tersebut.
Data Jepang Justru Sebut Warga China Terlibat Kriminalitas
Namun Jepang merespons dengan merilis data kriminalitas yang justru menunjukkan bahwa sebagian insiden kekerasan di wilayahnya melibatkan warga negara China. Dalam laporan terbaru, otoritas Jepang mencatat tujuh kasus pembunuhan dan 21 kasus perampokan yang dilakukan oleh warga China di Jepang.
Data itu dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yang mencatat 14 pembunuhan, 18 perampokan, dan tiga kasus pembakaran yang menargetkan warga China. Pemerintah Jepang menilai publikasi data ini sebagai upaya menyeimbangkan persepsi setelah munculnya klaim Beijing bahwa warganya menjadi korban diskriminasi dan serangan.