China Takut Bakal Ada Revolusi di Hong Kong

Ahmad Islamy Jamil ยท Rabu, 15 Juli 2020 - 02:51:00 WIB
China Takut Bakal Ada Revolusi di Hong Kong
Demonstrasi besar-besaran oleh massa prodemokrasi di Hong Kong, Juni tahun lalu. (Foto: AFP)

BEIJING, iNews.idChina menuduh para aktivis demokrasi Hong Kong sedang mencoba memulai revolusi. Beijing pun memperingatkan, beberapa kampanye untuk pemilihan pendahuluan (konvensi) yang dilakukan oleh kelompok oposisi baru-baru ini mungkin telah melanggar Undang-Undang Keamanan Nasional yang baru diberlakukan di wilayah bekas jajahan Inggris itu.

Tuduhan yang disampaikan oleh Kantor Penghubung Pemerintah China di Hong Kong tersebut secara dramatis meningkatkan risiko kriminalisasi terhadap partai-partai oposisi maupun tokoh-tokoh terkemuka prodemokrasi di kota itu.

AFP melansir, pada akhir pekan lalu, lebih dari 600.000 warga Hong Kong berpartisipasi aktif dalam pemilihan pendahuluan bakal calon legislatif yang akan diajukan untuk pemilu mendatang. Ratusan ribu orang itu tetap mengikuti kata hati nurani mereka, meski ada peringatan dari pejabat pemerintah bahwa konvensi itu dapat melanggar UU Keamanan Nasional versi Beijing.

Pemilu legislatif Hong Kong dijadwalkan berlangsung pada September. Partai-partai prodemokrasi tampaknya tak ingin menyia-nyiakan kemarahan publik yang semakin meningkat terhadap rezim Beijing yang kian otoriter. Namun, di sisi lain, China tampaknya juga bakal menggunakan segala cara untuk mempertahankan kursi mayoritas pro-Beijing di DPR Hong Kong.

Untuk diketahui, saat ini terdapat 70 kursi legislatif di DPR Hong Kong. Berdasarkan hasil Pemilu 2016, partai-partai pro-Beijing menguasai parlemen dengan perolehan 42 kursi. Sementara, kelompok oposisi alias partai-partai prodemokrasi hanya mendapatkan 28 kursi.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Senin (13/7/2020) malam, Kantor Penghubung Pemerintah China menyebut konvensi atau pemilihan pendahuluan oleh kelompok oposisi sebagai “provokasi serius terhadap sistem pemilu” di Hong Kong saat ini. Kantor itu pun menunjuk hidung Benny Tai, salah satu aktivis prodemokrasi terkemuka di Hong Kong, sebagai dalang dari provokasi tersebut.

“Tujuan geng Benny Tai dan kubu oposisi adalah merebut kekuasaan untuk memerintah Hong Kong, dengan upaya sia-sia untuk meluncurkan ‘revolusi warna’ versi Hong Kong,” ungkap Kantor Penghubung Pemerintah China, dikutip AFP, Rabu (15/7/2020).

Revolusi warna adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai gerakan protes populer di seluruh dunia, dengan tujuan menggulingkan pemerintahan. Ironisnya, negara China yang ada sekarang—dengan nama resmi Republik Rakyat China (RRC)—sejatinya adalah negara yang dibangun dengan kekuatan revolusi.

Benny Tai yang juga seorang profesor hukum, sebelumnya telah dipenjara karena keterlibatannya dalam protes damai prodemokrasi pada 2014. Pada Selasa (14/7/2020) kemarin, surat kabar Apple Daily menerbitkan tulisan kolom Tai yang berisi pujian terhadap pemilihan pendahuluan oleh partai prodemokrasi.

“Ancaman dari yang kuat (maksudnya ancaman dari Beijing—red) tidak menghalangi puluhan ribu warga untuk keluar dan memberikan suara (kepada oposisi),” tulisnya.

“Mereka tidak menyerah pada tekad mereka untuk mengejar demokrasi dan hak pilih yang universal.”

Editor : Ahmad Islamy Jamil