Dari Sekutu Jadi Ancaman, Kisah Pahit Imigran Afghanistan yang Berbalik Menyerang AS
Dakwaan Berat Menanti
Rahmanullah menyerang korban dengan pistol revolver Smith & Wesson. Dia akan didakwa dengan tiga tuduhan penyerangan, dan menurut Jaksa Agung Pam Bondi, tuntutan hukuman mati akan diajukan karena salah satu korban akhirnya tewas.
Insiden ini memicu peningkatan keamanan di sekitar Gedung Putih dan menambah kekhawatiran publik bahwa ancaman dapat datang dari individu yang justru pernah menjadi bagian dari jejaring kerja sama militer AS.
Potret Pahit Loyalitas yang Retak
Kisah Rahmanullah mencerminkan paradoks paling pahit dari perang: mereka yang dulu sangat dibutuhkan, sering kali kemudian merasa terlupakan atau tertekan oleh realitas baru. Banyak imigran Afghanistan menghadapi kesulitan adaptasi, birokrasi panjang, dan beban psikologis yang berat setelah relokasi.
Namun kasusnya kini menjadi peringatan keras bahwa risiko tersebut bisa berkembang menjadi ancaman serius jika tidak terdeteksi sejak dini.
Tragedi Ini Tinggalkan Pertanyaan Besar
Serangan dekat Gedung Putih ini meninggalkan sederet pertanyaan yang belum terjawab:
Selagi FBI melanjutkan penyelidikan menyeluruh, publik Amerika kini berhadapan dengan kenyataan pahit: tidak semua sekutu di medan perang akan tetap menjadi sekutu di tanah baru.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa perang tidak hanya meninggalkan luka di negara konflik, tetapi juga dapat memunculkan ancaman baru jauh setelah senjata diredam.
Editor: Anton Suhartono