Denmark Mulai Bangun Pagar Pemisah Sepanjang Perbatasan ke Jerman

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 01 Februari 2019 - 14:49 WIB
Denmark Mulai Bangun Pagar Pemisah Sepanjang Perbatasan ke Jerman

Denmark bangun pagar di perbatasan dengan Jerman. (Foto: Imago/Ritzau Scanpix/F. Cilius)

KOPENHAGEN, iNews.id - Sejak Senin (28/01), Denmark mulai membangun pagar kawat duri di sepanjang perbatasan ke Jerman. Negara di Skandinavia itu berharap, dengan membangun pagar kawat sepanjang 70 kilometer, mereka bisa mencegah masuknya penyakit demam virus flu babi Afrika.

Peternakan babi merupakan salah satu andalan perekonomian Denmark.

Konstruksi pagar setinggi 1,5 meter di atas tanah dengan kedalaman 50 sentimenter itu direncanakan selesai pada akhir 2019 dan akan menghabiskan dana 4,1 juta euro. Semuanya berawal dari kekhawatiran Denmark terserang virus flu babi Afrika, yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia tetapi mematikan bagi ternak babi.

Selain pagar perbatasan, Pemerintah Denmark juga tak akan melakukan patroli untuk babi hutan dan kontrol intensif pada babi hutan yang ada di lahan publik atau lahan pribadi. Denda untuk pelanggaran aturan pemeliharaan dan transposrtasi babi sudah dinaikkan.

Ada aturan ketat untuk kebersihan kendaraan angkutan hewan dan cara melakukan desinfeksi yang benar.

Mengapa Denmark begitu khawatir?

Denmark merupakan negara pengekspor daging babi terbesar di Eropa. Secara keseluruhan, ekspor daging babi mencapai nilai 30 miliar Krone Denmark atau sekitar 4,4 miliar Euro pada 2016, dan merupakan lima persen dari pendapatan negara itu.

Sebagian besar daging babi diekspor ke negara-negara Uni Eropa, sedangkan ekspor ke non-Uni Eropa mencapai nilai 11 miliar Krone.

"Kami memiliki 11 miliar alasan kuat untuk melakukan segala daya kami guna mencegah flu babi Afrika dari mencapai Denmark," kata Menteri Lingkungan dan Makanan, Jakob Ellemann-Jensen, seperti dilaporkan Deutsche Welle, Jumat (1/2/2019).

Asosiasi pertanian LandboSyd menyatakan, penyakit itu mengancam mata pencaharian sampai 33.000 orang yang bekerja di industri tersebut. Ada sekitrar 28 juta babi di Denmark yang tersebar di lebih 5000 peternakan.

Karena sebagian besar peternakan babi berada dekat perbatasan ke Jerman, Pemerintah Denmark khawatir jika babi hutan dari Jerman melewati perbatasan dan memabwa penyakit itu. Sekalipun sampai sekarang belum ada laporan tentang kasus flu babi Afrika di Jerman.

Di Polandia, kasus flu babi Afrika pernah menyebar pada 2014 yang ditularkan babi hutan dari Belorusia. Pada September tahun lalu, Belgia melaporkan kasus flu babi Afrika yang pertama dekat perbatasan ke Luksemburg dan Prancis.

Berita-berita itu yang membuat Denmark kini cemas.

Pembangunan pagar pemisah dikritik

Anggota parlemen Jerman mengeritik pembangunan pagar kawat pemisah itu dan mengatakan, sejauh yang diketahui, virus-virus itu terutama disebarkan oleh manusia selama transportasi ternak babi, dan oleh makanan yang terinfeksi.

Menteri Lingkungan dan Pertanian Negara Nagian Jerman yang berbatasan dengan Denmark, Schleswig-Holstein, Jan Philipp Albrecht, mengatakan kepada media lokal, dia memiliki "keraguan substansial" tentang perlunya pagar pemisah itu.

WWF cabang Denmark juga memperingatkan bahwa pagar pemisah itu akan mengganggu serigala, berang-berang, dan binatang lain. Bo Oksnebjerg dari WWF Denmark mengatakan, banyak spesies hewan yang tidak dapat menemukan 20 lubang permanen di pagar (untuk dilewati), tetapi babi hutan justru mampu.

"Mereka dapat berlari 35 kilometer per jam. Mereka akan menemukan lubang dalam beberapa menit."

Mereka juga perenang yang baik dan karenanya bisa menghindari pagar, tambahnya.

Memang sampai kini belum ada kasus demam babi Afrika di Jerman, namun Institut Friedrich-Loeffler, yang melakukan penelitian untuk kesehatan hewan, menyebut ada kemungkinan besar penyakit ini datang.

Pemerintah Prancis juga dilaporkan merencanakan pembangunan pagar perbatasan untuk menghentikan penyebaran penyakit flu babi Afrika dari Belgia, sementara para tentara diperintahkan untuk membantu para pemburu lokal menemukan babi hutan.

Editor : Nathania Riris Michico