Guci Angsa Berusia 2.000 Tahun Ditemukan di Makam Kuno China, Isinya Cairan Misterius

Anton Suhartono ยท Selasa, 26 Mei 2020 - 11:34:00 WIB
Guci Angsa Berusia 2.000 Tahun Ditemukan di Makam Kuno China, Isinya Cairan Misterius
Guci perunggu berbentuk leher angsa ditemukan di makam kuno China, usianya 2.000 tahun (Foto: Xinhua)

ZHENGZHOU, iNews.id - Sebuah guci perunggu berusia 2.000 tahun ditemukan di pemakaman Provinsi Henan, China. Di dalam guci yang tertutup rapat itu terdapat cairan yang tak teridentifikasi atau misterius yakni 3.000 mililiter.

Cairan asing dalam guci itu berwarna cokelat kekuningan dan mengandung kotoran. Sampel cairan dikirim ke Beijing untuk diuji lebih lanjut.

Tim arkeolog menemukan guci dengan leher melengkung berbentuk kepala angsa tersebut di pemakaman Kota Sanmenxia. Di lokasi yang sama juga ditemukan helm, baskom perunggu, serta beberapa pedang besi dan batu giok.

Hasil penelitian awal, dari bentuknya, makam tersebut dibangun pada pergantian Dinasti Qin (221 SM-207 SM) dan Dinasti Han (202 SM-220 M). Pemiliknya mungkin seorang pejabat rendahan, namun memiliki gelar.

Wakil kepala institut peninggalan budaya dan arkeologi Sanmenxia Zhu Xiaodong mengatakan, guci perunggu itu didapat saat tim arkeolog sedang memeriksa lokasi proyek renovasi perkampungan kumuh.

Menurut dia, ini merupakan guci perunggu pertama dari jenisnya yang pernah ditemukan di Sanmenxia.

Tim arkeolog mengundang seorang dokter hewan senior untuk membantu mengidentifikasi bentuk angsa.

"Desainnya menyerupai angsa bisu," kata Gao Ruyi, dokter hewan di taman lahan basah Sanmenxia, dikutip dari Xinhua, Selasa (26/5/2020).

Para arkeolog berspekulasi, pengerajin kuno menjadikan angsa sebagai model untuk guci dengan bentuk yang sangat realistis. Ini menunjukkan pemahaman pengerajin di masa itu mengenai angsa.

"Kami berani memperkirakan bahwa angsa mungkin telah muncul di Sanmenxia selama akhir Dinasti Qin dan awal Dinasti Han," kata Zhu.

Padahal warga Sanmenxia baru akrab dengan angsa mulai 1980-an, yakni sejak kedatangan hewan unggas itu dari Siberia setiap musim dingin. Masyarakat setempat menyukai hewan-hewan unggas itu dan memberi makan.

Editor : Anton Suhartono