Harapan Muslim Rohingya Jelang Putusan Pengadilan Internasional terhadap Myanmar soal Genosida

Anton Suhartono ยท Kamis, 23 Januari 2020 - 09:34:00 WIB
Harapan Muslim Rohingya Jelang Putusan Pengadilan Internasional terhadap Myanmar soal Genosida
Muslim Rohingya berharap hakim Pengadilan Internasional memberikan putusan yang adil terhadap Myanmar (Foto: AFP)

DEN HAAG, iNews.id - Pengadilan Internasional atau International Court of Justice (ICJ) di Den Haag, Belanda, akan mengumumkan hasil putusan gugatan Gambia terhadap Myanmar, Kamis (23/1/2020).

Negara Afrika Barat itu menuduh Myanmar melanggar Konvensi Genosida tahun 1948 dengan membantai muslim Rohingya pada 2017, pemicu eksodusnya lebih dari 730.000 warga minoritas Rohingya dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, ke Bangladesh.

Baca Juga: PBB: Militer Myanmar Berniat Musnahkan Muslim Rohingya

Dalam sidang yang digelar pada pertengahan Desember 2019, Gambia meminta pengadilan melakukan serangkaian perlindungan terhadap etnis Rohingya, termasuk penghentian kekerasan dengan segera.

Negara mayoritas berpenduduk muslim itu juga meminta hakim memerintahkan Myanmar memberikan akses ke badan-badan PBB untuk menyelidiki dugaan kejahatan secara terperinci.

Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi saat sidang membantah adanya genosida dan dia meminta panel yang terdiri dari 17 hakim untuk membatalkan gugatan Gambia.

Baca Juga: Aung San Suu Kyi Tepis Muslim Rohingya Dibantai, tapi Akui Tentara Myanmar di Luar Batas

Namun dia mengakui militer bertindak di luar batas dalam melakukan kekerasan terhadap muslim Rohingya.

Putusan yang dikeluarkan hakim Pengadilan Internasional pada Kamis hanya terkait permintaan Gambia dan belum final melainkan hanya awalan. Putusan akhir bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Putusan Pengadilan Internasional bersifat final dan tergugat tak bisa mengajukan banding. Namun Pengadilan tak bisa menjamin seluruh putusan ditegakkan oleh tergugat.

Sementara itu di kamp pengungsian Cox's Bazar, Bangladesh, muslim Rohingya berharap putusan dari hakim yang menguntungkan sebagai obat atas penderitaan yang mereka alami selama bertahun-tahun.

"Seluruh warga Rohingya berdoa untuk keadilan. Kami berharap (hamkim) akan memberikan penilaian yang adil," kata pemimpin komunitas di pengungsian, Dil Mohammad (52), dikutip dari Reuters.

Baca Juga: Tim Panel Myanmar Sebut Tak Ada Genosida terhadap Muslim Rohingya, tapi Kejahatan Perang

Meskipun sidang di Den Haag baru tahap awal, pengacara HAM di Myanmar Akila Radhakrishnan mengatakan, hasil ini sudah terlihat dampaknya. Setidaknya pemerintah Myanmar mulai terbuka terkait kasus muslim Rohingya.

"Sejak kasus diajukan, kami melihat pemerintah mengambil tindakan untuk memastikan pertanggungjawaban, seperti menggelar pengadilan militer. Sekarang sistem peradilan militer memang sangat cacat, tapi sebelumnya tidak ada," katanya, seraya menambahkan bahwa Pemerintah Myanmar tidak bisa lagi mengabaikan tuduhan kekerasan.

Editor : Anton Suhartono