Imbas Kerusuhan Masuk Kampus di Hong Kong: Banyak Mahasiswa Indonesia Pulang, TKI Bertahan

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 22 November 2019 - 14:41 WIB
Imbas Kerusuhan Masuk Kampus di Hong Kong: Banyak Mahasiswa Indonesia Pulang, TKI Bertahan

Polisi berusaha merebut kembali jembatan penyeberangan di sebuah terowongan di Hong Kong tetapi disambut oleh rentetan bom bensin yang menyebabkan kebakaran besar. (FOTO: AFP / Philip FONG )

HONG KONG, iNews.id - Imbas dari kerusuhan yang meluas ke wilayah kampus, perguruan tinggi di Hong Kong menghentikan aktivitas belajar-mengajar mereka sejak pertengahan November lalu. Akibatnya, banyak mahasiswa Indonesia yang sedang studi di sana memutuskan untuk kembali.

Di sisi lain, para buruh imigran atau tenaga kerja Indonesia (TKI) tetap bertahan.

Hong Kong Polytechnic University (PolyU) di wilayah Hung Hom menjadi salah satu kampus yang terdampak kerusuhan di kota pulau tersebut. Sejak 11 November 2019, polisi Hong Kong berusaha masuk wilayah kampus.

"Pada Senin (11/11/2019) itu, tiba-tiba pagi-pagi banyak polisi di kampus," kata William Huang, mahasiswa Indonesia di PolyU, kepada ABC News, Jumat (22/11/2019).

"Gas air mata ditembak di dalam wilayah kampus," lanjutnya.

William menceritakan, sejak saat itu kampusnya diliburkan. Dan hingga kini (22/11/2019) masih ditutup.

Mahasiswa program sarjana yang duduk di semester 3 ini mengaku sudah kembali ke Indonesia sejak pekan lalu, setelah menerima email dari pihak kampus.

"Soalnya ada berita (email), kami disuruh balik demi keselamatan begitu," ujarnya.

Selain dirinya, kata William, mayoritas mahasiswa Indonesia di PolyU juga sudah kembali ke Indonesia.

"Mahasiswa Indonesia di sini kurang lebih 90 orang. Sekitar 80 sudah pulang."

"Tapi beberapa masih di Hong Kong karena punya keluarga di sana," sebut mahasiswa jurusan Product Engineering ini.

William belum tahu sampai kapan kampusnya ditutup, tetapi dia sangat berharap bisa kembali ke Hong Kong dan melanjutkan studi yang terhambat.

"Sepengetahuan saya tidak ada yang lanjut kelas seperti biasa, antara berhenti sama sekali atau ada kelas online," katanya.

Kampus Maximillian Adiguna mengalami nasib yang lebih beruntung.

Meski terdampak kerusuhan dan sempat diliburkan, aktivitas belajar di Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) -tempat Maximillian berkuliah -sudah diaktifkan kembali setelah terhenti dua pekan.

Mahasiswa program sarjana asal Indonesia ini menuturkan situasi di kampusnya relatif lebih tenang dibanding kampus lain di Hong Kong.

Sama seperti William, Maximillian ingin kembali ke Indonesia. Namun sayangnya, dia terhambat urusan dokumen resmi sehingga kepulangannya masih tertunda.

"Saya takut kalau malam bertemu polisi, jujur saja. Selama ini separah-parahnya demonstran, saya kan masih mahasiswa internasional. Mereka tidak terlalu feel offended (merasa diserang)."

"Tapi mungkin itu beda bagi mahasiswa dari (daratan) mainland (China) yang merasa adanya kebutuhan untuk 'melindungi kampung halaman mereka'," papar mahasiswa jurusan ilmu komputer ini.

Walaupun dia menerima imbauan keselamatan dari Konsulat Jenderal Republik (KJRI) Indonesia di Hong Kong, Maxi mengaku keinginannya untuk pulang lebih disebabkan alasan sepinya kegiatan.

"Bosan kuliahnya kosong."

"Untuk HKUST sendiri mahasiswa Indonesia ada sekitar 180 orang, belum termasuk mahasiswa pascasarjana."

"Tapi sudah pulang semua rata-rata sejak kuliah diliburkan," katanya.

Perwakilan Pemerintah Indonesia di Hong Kong memang meminta para mahasiswa Indonesia di sana tetap tenang selama kerusuhan berlangsung.

Dalam imbauan tertulisnya yang diterima ABC, KJRI juga mengimbau mahasiswa menjauhi lokasi demo.

"Menyangkut keadaan Hong Kong yang kurang kondusif saat ini, KJRI Hong Kong bersama PPI-HK (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Hong Kong) mengimbau teman-teman untuk tetap tenang, berpikir rasional, dan menghindari bentrok baik dengan pihak pendemo maupun polisi."

"Teman-teman juga diimbau untuk: (1) Menghindari wilayah yang menjadi pusat unjuk rasa. (2) Tidak keluar dari asrama atau rumah bila tidak ada hal yang benar-benar penting untuk melakukan kegiatan di luar," demikian bunyi pesan tersebut.

Jika banyak mahasiswa Indonesia di Hong Kong memilih pulang ke Indonesia, tak demikian halnya dengan para buruh migran atau TKI. Banyak dari mereka tetap bertahan dan bekerja di rumah-rumah tangga keluarga Hong Kong.

Dari postingan Facebook milik akun Yuni Sze, warga Indonesia di Hong Kong, puluhan buruh imigran mengungkapkan tanggapan mereka mengenai situasi di Hong Kong dan harapan mereka.

"Teman2 Hong Kong, sdakah hal-hal yang membuatmu khawatir dan ingin meninggalkan Hong Kong karena situasi sekarang ini?" tulis Yuni dalam akunnya.

"Tidan Mbak. Aku tetap tenang saja selama majikan masih melajutkan kontrak selanjutnya sanpai finish (selesai)," jawab akun bernama Meydy Meydyy.

"Tidak pingin pulang lah gajiku tambah naik Mbk Yuni. Berdoa Hong Kong cepat membaik amin," kata pemilik akun Nanda Mega Waty.

"Belum sis. Hong Kong adalah rumah ke 2 untuk para BMI (buruh migran Indonesia). Semoga Hong Kong kembali aman dan damai seperti dulu lagi, love Hong Kong," komentar akun bernama Samsam Salim Grouf.

Warga Indonesia di Hong Kong lainnya, Hanna Yohana, mengatakan demo berbulan-bulan yang terjadi di Hong Kong memengaruhi aktivitas buruh imigran meski sebagian besar dari mereka bekerja di ranah domestik rumah tangga.

Hanna menyebut aktivitas mingguan para buruh imigran di kawasan Victoria Park juga terdampak.

Di taman itu, para buruh imigran dari Indonesia biasanya berkumpul tiap akhir pekan.

"Semenjak ada demonstrasi, apalagi sekarang demonstrasi tidak bisa diprediksi, sekarang Victoria Park tidak seramai dulu."

"Karena mereka lebih memilih libur yang dekat dengan rumah," sebut Hanna.

Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia (Kemenaker) menilai, sejauh ini, situasi di Hong Kong masih kondusif untuk para buruh imigran.

"Tidak ada penutupan job order (pesanan kerja) dari pengguna jasa TKI di HK (Hong Kong). Penempatan TKI yang new comer (baru datang) di HK juga masih berlanjut," jelas Kepala Biro Humas Kemenaker, Soes Hindharno.

Dia menganalogikan unjuk rasa di Hong Kong dengan kondisi serupa di ibu kota Jakarta.

"Karena situasinya sama saja dengan misal di Jakarta ada demo, tapi kan cuma di Jakarta, di kota lain tidak."

"Demikian juga di HK, di HK ada demo, tapi di daerah lain tidak."

Soes mengatakan lembaganya menghimbau para buruh imigran mematuhi aturan dari otoritas setempat, baik KJRI maupun pemerintah atau Kepolisian Hong Kong.


Editor : Nathania Riris Michico