Jelang Sidang Genosida Muslim Rohingya di Den Haag, Aktivis HAM Serukan Boikot Myanmar

Anton Suhartono ยท Senin, 09 Desember 2019 - 19:57 WIB
Jelang Sidang Genosida Muslim Rohingya di Den Haag, Aktivis HAM Serukan Boikot Myanmar

Aung San Suu Kyi (Foto: AFP)

DEN HAAG, iNews.id - Para aktivis hak asasi manusia (HAM) internasional serta pendukung muslim Rohingya menyerukan boikot global terhadap Myanmar, menjelang sidang di Pengadilan Internasional (ICJ) di Den Haag, Belanda.

Koalisi Rohingya Merdeka telah memulai 'Kampanye Boikot Myanmar' bersama 30 organisasi di 10 negara. Mereka menyerukan kepada perusahaan, investor asing, organisasi profesional, dan budayawan, untuk memutuskan hubungan kelembagaan dengan Myanmar.

Disebutkan, boikot ini bertujuan untuk memberi tekanan ekonomi, budaya, diplomatik, dan politik kepada pemerintahan koalisi sipil sipil dan militer Myanmar.

Gambia, mewakili negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), pada November lalu menggugat Myanmar dengan tuduhan pelanggaran HAM atas pembantaian etnis atau genosida terhadap muslim Rohingya pada 2017 yang menyebabkan lebih dari 730.000 warga eksodus ke Bangladesh.

Pihak berwenang Myanmar menepis tuduhan genosida dengan alasan mereka hanya melakukan operasi militer untuk melawan teroris dan gerakan separatis yang telah menewaskan 13 pasukan keamanan. Namun PBB menyebut tindakan militer Myanmar terhadap etnis Rohingya sudah di luar batas, mereka dibunuh secara sadis, dibakar, dan para perempuan anak-anak dan dewasa diperkosa.

Sidang akan digelar mulai Selasa (10/12/2019) di mana pemerintah Myanmar akan diwakili langsung oleh Aung San Suu Kyi.

Suu Kyi sudah tiba di Belanda pada Minggu (7/12/2019). Ini akan menjadi rekor di mana Suu Kyi akan menghadiri sidang dengar pendapat selama 3 hari.

Beberapa aksi demonstrasi akan digelar beberapa hari mendatang di Den Haag oleh kelompok-kelompok HAM serta para pendukung muslim Rohingya.

Selama 3 hari persidangan, tim hukum Gambia akan meminta majelis hakim beranggotakan 16 orang dari PBB untuk melakukan "tindakan sementara" demi melindungi etnis Rohingya sebelum kasus tersebut diungkap secara penuh.

Sementara itu di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh, beberapa warga Rohingya mengatakan menyampaikan doa agar keadilan ditegakkan.

"Saat Aung San Suu Kyi menjadi ikon perdamaian dan kami memiliki harapan besar bahwa segalanya akan berubah ketika dia berkuasa. Kami berdoa untuknya, tapi dia sekarang sudah menjadi ikon genosida, memalukan," kata Nur Alam (65), pria yang kehilangan putranya akibat ditembak mati tentara Myanmar.

Momtaz Begum (31) sambil menangis, mengenang bagaimana tentara Myanmar memerkosa dan mengurungnya di rumah. Setelah itu tentara Myanmar membakar atap rumah untuk membunuh keluarganya.

Dia berhasil melarikan diri dari upaya pembakaran hidup-hidup itu lalu mendapati suami dan tiga putranya dibunuh lalu putrinya disiksa.

"Tentara membunuh suami saya. Mereka memerkosa dan membakar rumah saya, mereka menusuk kepala anak perempuan saya berusia 6 tahun. Mengapa mereka membunuh warga kami yang tidak bersalah, anak-anak kami? Mengapa mereka menyiksa dan memerkosa perempuan kami? Kami menuntut keadilan," ujarnya.


Editor : Anton Suhartono