Kisah Menyedihkan Pasien Kanker Gaza Sulit Berobat: Saya Hanya Menunggu untuk Mati
"Kami mencatat sejumlah besar kematian, berkisar tiga hingga lima setiap hari, karena pasien tidak menerima kemoterapi yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa mereka," kata Abu Selmia.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum perang. Sobhi Skaik, dokter bedah Palestina yang sebelumnya memimpin Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, mengatakan sebelum perang sekitar satu hingga dua pasien kanker meninggal setiap hari.
Perjuangan pasien kanker semakin berat setelah Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, fasilitas khusus kanker di Gaza, dihancurkan pada 2025.
Kehancuran fasilitas tersebut membuat pasien kehilangan salah satu tempat utama untuk mendapatkan terapi kanker.
Dokter mengatakan rumah sakit-rumah sakit yang masih beroperasi juga mengalami kekurangan berbagai perlengkapan medis penting, termasuk kebutuhan untuk diagnosis dan pengobatan kanker.