Korsel Selidiki Adik Kim Jong Un Terkait Peledakan Kantor Penghubung

Anton Suhartono ยท Kamis, 16 Juli 2020 - 17:09 WIB
Korsel Selidiki Adik Kim Jong Un Terkait Peledakan Kantor Penghubung

Kim Yo Jong (Foto: AFP)

SEOUL, iNews.id - Jaksa Seoul, Korea Selatan (Korsel), Kamis (16/7/2020), membuka penyelidikan terhadap Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un, terkait peledakan kantor penghubung di perbatasan kedua negara pada Juni.

Ini merupakan kali pertama Korsel menyelidiki perempuan yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Kim Jong Un tersebut.

Langkah ini akan menambah ketegangan kedua negara setelah pengiriman selebaran propaganda melalui perbatasan.

Seorang juru bicara kejaksaan Seoul mengatakan, Jaksa Distrik Pusat Seoul menerima pengaduan pidana terhadap Kim Yo Jong dari seorang pengacara, Lee Kyung Joe, dan telah memulai penyelidikan.

Lee mengklaim kantor penghubung itu merupakan milik Korsel karena direnovasi menggunakan dana pemerintah, meskipun berlokasi di Korut.

“(Kim Yo Jong) Menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan bangunan misi diplomatik Korsel yang melayani kepentingan publik,” kata Lee, dalam dokumen pengaduan, dikutip dari AFP.

Selain menuntut Yo Jong, Lee juga menargetkan Pak Jong Chon, kepala staf umum militer Korut dengan tuduhan yang sama.

Di bawah hukum pidana Korsel, merusak properti atau mengganggu perdamaian dengan menggunakan bahan peledak diancam hukum mati atau penjara setidaknya 7 tahun.

Hukuman mati masih tercantum dalam UU Korsel meski belum ada yang dieksekusi sejak 1997.

Sementara itu Lee menyadari bahwa pada praktiknya hampir tidak mungkin otoritas negaranya menghukum Yo Jong atau Pak. Namun dia menekankan ingin memberi tahu rakyat Korut tentang kemunafikan para pemimpin mereka.

Korut meledakkan kantor penghubung antar-Korea yang berdiri di wilayahnya beberapa hari setelah Kim Yo Jong mengatakan bangunan itu tidak berguna lagi dan segera hancur.

Insiden tersebut terjadi setelah Korut mengeluarkan serangkaian kecaman terkait pengiriman selebaran propaganda yang dilakukan para aktivis serta pembelot ke wilayahnya.

Jutaan selebaran dikirim menggunakan balon udara, disertai flasdisk berisi file lagu-lagu dan drama Korea serta uang bagi siapa saja yang mengambilnya.

Editor : Anton Suhartono