Mahasiswa Bangladesh Dipukuli 4 Jam hingga Tewas Gara-Gara Kritik Pemerintah

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 10 Oktober 2019 - 16:21 WIB
Mahasiswa Bangladesh Dipukuli 4 Jam hingga Tewas Gara-Gara Kritik Pemerintah

Abrar Fahad. (Source: Facebook)

DHAKA, iNews.id - Seorang mahasiswa Bangladesh dibunuh di asramanya beberapa hari setelah mengkritik pemerintah lewat daring. Menurut keterangan saksi, mahasiswa itu dipukuli dan dianiaya selama berjam-jam sebelum dia meninggal dunia.

Beberapa mahasiswa di asrama mengatakan, Abrar Fahad dibawa dari kamarnya pada Minggu, 6 Oktober sekitar pukul 20.00 waktu setempat dan dipukuli selama setidaknya empat jam. Dokter yang melakukan autopsi pada jasad Fahad mengonfirmasi kepada BBC bahwa tubuh mahasiswa 21 tahun itu mengalami memar-memar yang parah.

Fahad belajar di Universitas Teknik Bangladesh (Buet) di Dhaka.

Beberapa anggota Liga Chhatra Bangladesh (BCL), sayap pemuda dari Partai Liga Awami yang berkuasa, ditahan sehubungan dengan kematian Fahad. BCL banyak dituduh menggunakan penyiksaan dan pemerasan terhadap siswa.

Rekaman CCTV dari asrama Fahad menunjukkan, beberapa pria membawa tubuh korban. Polisi menahan sembilan pria dari asrama, termasuk sedikitnya lima aktivis BCL.

Polisi mengatakan, jumlah tersangka yang ditahan meningkat menjadi 13 orang, dan polisi masih mencari enam tersangka lainnya. Semua tersangka yang ditahan adalah mahasiswa Buet.

"Ada banyak trauma benda tumpul di tubuhnya. Kami pikir dia meninggal karena serangan benda tumpul," kata Kepala Departemen Forensik Rumah Sakit Dhaka Medical College, Dr Sohel Mahmud, seperti dilaporkan BBC, Kamis (10/10/2019).

Wakil Komisaris Kepolisian Dhaka, Munstasirul Islam, membenarkan mahasiswa tersebut dipukuli hingga mati.

Anggota BCL yang dikutip oleh media lokal mengatakan Fahad telah "diinterogasi" dan dipukuli karena diduga memiliki hubungan dengan partai Islam. Itu terjadi setelah dia menulis posting di media sosial mengkritik pemerintah atas kesepakatan berbagi air dengan India.

BCL menyatakan bahwa setelah melakukan investigasi, pihaknya mengusir 11 anggota divisi Buet mereka.

Seorang siswa Buet yang tidak mau disebutkan namanya karena takut menerima pembalasan mengatakan pada BBC bahwa mereka melihat Fahad hidup pada pukul 02.00 waktu setempat di sebuah ruangan tempat dia dipukuli.

"Saya melihat Abrar di kamar 2005, dia masih hidup. Dengan bantuan dari beberapa siswa junior saya membawa Abrar ke bawah. Dia masih hidup dan dia berkata, 'Tolong cepat bawa saya ke rumah sakit'."

Siswa lain yang tiba di lokasi kejadian mengatakan beberapa siswa berkumpul dengan asisten rektor asrama untuk mendesaknya mengambil tindakan, ketika anggota BCL mulai menggedor pintu, berusaha untuk masuk.

Berita kematian Fahad menyebabkan protes di Dhaka dan kota-kota lain pada Senin. Siswa di ibu kota meneriakkan slogan dan memblokir jalan. Protes berlanjut pada Selasa dengan siswa di Buet menuntut hukuman mati bagi mereka yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan tersebut.

Mantan siswa dan anggota staf pengajar juga bergabung dengan demonstrasi di kampus Buet. Pembunuhan itu mengejutkan Bangladesh dan menyoroti budaya kekerasan di universitas negeri.

"Ini benar-benar tidak dapat diterima bahwa seorang siswa akan mati karena penyiksaan di aula perumahan," kata Presiden Asosiasi Guru Buet, AKM Masud.

"Kematian Abrar Fahad membuktikan kegagalan total pihak berwenang memastikan keamanan para siswa."


Editor : Nathania Riris Michico