Mahasiswa China Dipersulit di Bandara Australia, Universitas Tuntut Permintaan Maaf

Nathania Riris Michico ยท Minggu, 09 Februari 2020 - 06:07 WIB
Mahasiswa China Dipersulit di Bandara Australia, Universitas Tuntut Permintaan Maaf

Larangan penerbangan dari China ke Australia terkait wabah korona menyebabkan banyaknya mahasiswa yang sempat ditahan di bandara dan sebagian langsung dipulangkan. Pihak universitas pemerintah meminta maaf atas perlakuan tersebut. (FOTO: Reuters)

SYDNEY, iNews.id - Asosiasi perguruan tinggi Australia mengecam tindakan petugas bandara terhadap mahasiswa asal China terkait wabah virus korona. Para mahasiswa diinterogasi berjam-jam, ada yang visanya ditangguhkan, ada juga yang langsung dipulangkan.

Asosiasi bernama Universities Australia ini menyebutkan para mahasiswa asal China merasa tertekan setelah ditahan oleh petugas bandara ketika larangan perjalanan mulai berlaku.

Mereka mendesak Pemerintah Australia meminta maaf kepada mahasiswa yang mengalami interogasi dan penahanan berjam-jam tersebut.

Sedikitnya 80 warga China termasuk para mahasiswa dihentikan petugas di Bandara Sydney pada Minggu (2/2/2020). Hal yang sama juga terjadi di Bandara Melbourne dan Brisbane.

Ketua Universites Australia Catriona Jackson menyatakan pihaknya telah menyampaikan permasalahan ini kepada Menteri Dalam Negeri Peter Dutton.

Dia berharap Mendagri Dutton meminta maaf secara resmi kepada warga asal China yang diperlakukan dengan buruk tersebut.

"Kami mendapat laporan dari pejabat universitas yang mengatakan para mahasiswa ini sangat tertekan," kata Catriona, kepada ABC Radio.

"Mereka sangat kecewa dengan perlakuan yang dialami. Mereka merasa ditahan selama periode tertentu tanpa makanan yang cukup. Ada yang pakaiannya diambil," tuturnya.

Kedutaan Besar China di Australia secara terpisah menyatakan kecewa dengan keputusan Pemerintah Australia memberlakukan larangan perjalanan dan menolak seluruh kedatangan dari China daratan.

Diplomat China menyebut warganya tidak mendapatkan peringatan yang jelas, dan sebagian sudah berada dalam pesawat ketika perbatasan Australia ditutup mulai 1 Februari lalu.

Menurut Catriona Jackson, sebagian mahasiswa China khawatir visa mereka akan dibatalkan oleh pemerintah Australia.

"Visa mereka tidak dibatalkan. Mereka tak perlu mendaftar ulang untuk visa. Tidak perlu membayar lagi," ujarnya.

Dia mengatakan Mendagri Dutton berjanji segera menindaklanjuti permasalahan ini.

"Saya kira perlu ada permintaan maaf resmi kepada para mahasiswa. Mereka ini tertekan, datang dari negara yang mengalami epidemi yang serius," kata Catriona lagi.

Kementerian Dalam Negeri menyatakan petugas perbatasan telah melaksanakan tugas sesuai kewenangannya.

"Kesehatan dan keselamatan masyarakat Australia merupakan prioritas tertinggi pemerintah. Ini mencakup semua orang di Australia mulai dari warga negara, penduduk tetap dan pemegang visa sementara," isi pernyataan Depdagri.

Sementara itu Menteri Pendidikan Tinggi Dan Tehan bertemu dengan pengurus Universities Australia untuk memastikan reputasi sektor pendidikan Australia tetap terjaga selama krisis ini.

Menteri Tehan menjelaskan univeritas memiliki fleksibilitas untuk pengaturan kuliah mahasiswa China yang terdampak, yaitu kuliah online atau kuliah jarak jauh.

Universitas Monash yang memiliki porsi mahasiswa asal China sangat tinggi, mengumumkan akan mengundurkan dimulainya masa perkuliahan hingga dua minggu dari jadwal seharusnya.

Sebuah petisi online yang didukung ribuan orang juga meminta Universitas Sydney untuk melakukan hal yang sama, namun hingga saat belum ada kebijakan dari universitas tersebut.

Menurut catatan, sekitar 189.000 mahasiswa asal China saat ini terdaftar di sektor pendidikan tinggi Australia. Dari jumlah itu, 155.000 orang mengikuti perkuliahan di universitas.

Pada tahun anggaran2018/2019, sektor pendidikan internasional menghasilkan 37,6 miliar dolar atau sekitar Rp376 triliun untuk peekonomian Australia, atau naik 5 miliar dolar dibandingkan tahun sebelumnya.


Editor : Nathania Riris Michico