Mahathir Mohamad Ancam Putuskan Hubungan dengan Anwar Ibrahim

Anton Suhartono ยท Rabu, 24 Juni 2020 - 08:23 WIB
Mahathir Mohamad Ancam Putuskan Hubungan dengan Anwar Ibrahim

Mahathir Mohamad ancam akan memutuskan hubungan dengan Anwar Ibrahim (Foto: AFP)

KUALA LUMPUR, iNews.id - Mahathir Mohamad mengancam akan memutuskan hubungan dengan Anwar Ibrahim terkait kebuntuan dalam menentukan perdana menteri berikutnya dari koalisi oposisi Pakatan Harapan Plus.

Mahathir mengatakan akan keluar dari gabungan oposisi karena Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang dipimpin Anwar menolak mengusungnya sebagai perdana menteri.

“Tidak, saya kira saya akan keluar. Saya tidak akan bekerja sama dengan dia (Anwar) karena tak mau bekerja dengan saya. Saya harus mencari cara lain agar bisa menjadi perdana menteri. Pasti ada jalan lain,” kata pria 94 tahun yang dipecat dari Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) itu oleh Perdana Menteri Muhyiddin Yassin, kepada surat kabar Sin Chew Daily, seperti dilaporkan kembali The Star, Rabu (24/6/2020).

Meski demikian Mahathir tetap akan berkerja sama dengan partai lain di oposisi yakni DAP dan Partai Amanah Negara (Amanah).

Pakatan Harapan Plus merupakan kombinasi dari partai pendukung lama, yakni PKR, DAP, dan Amanah dengan Warisan serta beberapa mantan politisi PPBM yang disingkirkan Muhyiddin.

DAP dan Amanah berbeda pendapat dengan Anwar dalam penentuan perdana menteri. Mereka lebih memilih Mahathir sebagai perdana menteri dan menempatkan Anwar sebagai wakilnya.

“Mereka sudah lama menjadi partai oposisi. Sebelum saya bergabung dengan mereka pada 2008 dan 2013. Mereka berusaha agar menang tapi kalah. Mereka tidak bisa menang. Pada pemilihan umum ke-14, saya bergabung dengan mereka dan dengan dukungan orang Melayu yang cukup, kami menang,” kata Mahathir, menceritakan DAP dan Amanah.

Mahathir yakin dirinya bisa diandalkan sebagai daya tarik suara karena didukung kalangan penduduk asli atau Melayu, itu yang terjadi saat pemilu pada 2018 lalu.

“Mereka jelas membutuhkan suara orang Melayu untuk menang. Jadi mereka pikir saya bisa memberikan suara dari Melayu karena Bersatu (PPBM) adalah partai Melayu, sementara yang lain bersifat multiras. Orang Melayu tidak akan mendukung partai multiras," ujarnya.

Mahathir juga menolak tawaran Anwar menduduki posisi menteri senior karena berdasakan pengalamannya, tidak ada yang mau mendengar masukan menteri penasihat itu.

“Pengalaman saya ketika saya mencoba memberi nasihat kepada perdana menteri, mereka menolak. Sama seperti mantan perdana menteri Abdullah Ahmad Badawi, Najib Razak, dan sekarang Muhyiddin Yassin," katanya.

Editor : Anton Suhartono