PBB: 7.000 Orang Ditahan sejak Unjuk Rasa Meletus di Iran

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 06 Desember 2019 - 20:27 WIB
PBB: 7.000 Orang Ditahan sejak Unjuk Rasa Meletus di Iran

Aksi protes di Iran. (FOTO: Photo: Hairda Hamdani/AFP/Getty Images)

JENEWA, iNews.id - PBB menyatakan setidaknya 7.000 orang dilaporkan ditangkap di Iran sejak demonstrasi massa meletus bulan lalu. PBB menyerukan pembebasan bagi mereka yang ditahan secara sewenang-wenang.

Dalam sebuah pernyataan, kantor hak asasi manusia PBB juga mengklaim memperoleh "rekaman video terverifikasi" yang menunjukkan pasukan keamanan menembaki para pengunjuk rasa, yang tampaknya bermaksud untuk membunuh.

Kantor hak asasi mengklaim pula pihaknya memiliki informasi yang menunjukkan bahwa setidaknya 208 orang tewas selama kerusuhan, mendukung jumlah korban yang sebelumnya diberikan oleh Amnesty International.

"Ada juga laporan-laporan, yang sejauh ini tidak dapat diverifikasi oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB, menyarankan lebih dari dua kali lipat jumlah itu terbunuh," demikian pernyataan itu menambahkan.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet, mengatakan video yang diperoleh kantornya menunjukkan kekerasan besar digunakan terhadap pengunjuk rasa.

"Kami juga menerima rekaman yang menunjukkan pasukan keamanan menembak demonstran yang tidak bersenjata dari belakang ketika mereka melarikan diri, dan menembak orang lain langsung di wajah dan organ vital - dengan kata lain menembak untuk membunuh," kata Bachelet.

"Materi video tambahan menunjukkan anggota pasukan keamanan yang menembak dari atap gedung departemen kehakiman di Kota Javanrud, sebelah barat Teheran di Provinsi Kermanshah, serta tembakan dari helikopter di Sadra," di Provinsi Fars.

Protes dimulai pada 15 November menyusul kenaikan harga BBM yang mengejutkan.

Iran belum memberikan angka keseluruhan untuk jumlah orang yang terbunuh atau ditangkap.

Iran menyalahkan kekerasan yang terjadi selama protes pada prema-preman yang didukung oleh musuh-musuhnya, Amerika Serikat, Israel, dan Arab Saudi.

Iran juga membantah tingginya angka kematian yang dilaporkan oleh sumber-sumber asing sebagai kebohongan total.

Editor : Nathania Riris Michico