Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Trump Pertimbangkan Pecat Menhan Hegseth gegara Partai Republik Kalah Pemilu AS
Advertisement . Scroll to see content

Pemimpin Oposisi Israel Tolak Campur Tangan Trump di Pemilu: Ini Urusan Kami!

Sabtu, 07 November 2026 - 06:30:00 WIB
Pemimpin Oposisi Israel Tolak Campur Tangan Trump di Pemilu: Ini Urusan Kami!
Pemimpin oposisi Israel Gadi Eisenkot menolak campur tangan Presiden AS Donald Trump dalam proses pembentukan pemerintahan baru Israel (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

TEL AVIV, iNews.id - Pemimpin oposisi IsraelGadi Eisenkot menolak campur tangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam proses pembentukan pemerintahan baru Israel. Dia menegaskan, masa depan pemerintahan Israel merupakan urusan dalam negeri yang tidak boleh diintervensi negara lain.

Ketua Partai Yashar itu bahkan memastikan tidak akan bergabung dengan pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sekalipun Trump turun tangan membujuknya. Eisenkot menegaskan sikap tersebut dalam sebuah pertemuan tertutup baru-baru ini.

Stasiun televisi Israel, KAN, mengutip sumber pejabat Israel, melaporkan Eisenkot menyampaikan penolakannya secara terbuka dalam pertemuan tersebut.

"Saya tidak akan duduk dalam pemerintahan yang dipimpin oleh Netanyahu," ujarnya, seperti dilaporkan Anadolu.

Eisenkot juga menyinggung kemungkinan Trump mengundangnya untuk membicarakan pembentukan pemerintahan baru Israel. Dia mengatakan bersedia memenuhi undangan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada presiden AS, namun tidak akan membiarkan Washington mencampuri urusan politik negaranya.

"Jika Trump mengundang saya, saya akan menghormati sang presiden dan hadir, tapi saya juga akan menegaskan, ini adalah urusan dalam negeri Israel, dan saya akan mencegah campur tangan apa pun," katanya.

Pernyataan Eisenkot tersebut muncul di tengah kebuntuan politik Israel setelah pemilihan parlemen pekan lalu tidak menghasilkan pemenang dengan mayoritas kursi di Knesset.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan terbuka untuk menggelar pembicaraan mengenai pembentukan pemerintahan bersama. Namun, dia bersikeras tetap harus menjadi pemimpin pemerintahan tersebut.

Netanyahu juga menolak membentuk koalisi yang bergantung pada dukungan dua partai utama Arab, yakni Ra'am dan Joint List.

Berdasarkan hasil pemilu, blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, sementara partai-partai oposisi meraih 48 kursi. Adapun partai-partai Arab menguasai 19 kursi di parlemen yang memiliki total 120 anggota.

Hasil tersebut membuat tidak ada satu pun blok politik yang berhasil mengamankan mayoritas minimal 61 kursi untuk membentuk pemerintahan.

Di tengah situasi itu, sejumlah partai oposisi mulai menggalang dukungan untuk mengusung Eisenkot sebagai calon pemimpin pemerintahan berikutnya.

Partai Together pimpinan Naftali Bennett, kelompok Demokrat pimpinan Yair Golan, serta Partai Yisrael Beytenu pimpinan Avigdor Lieberman memutuskan merekomendasikan Eisenkot untuk membentuk pemerintahan baru.

Jika memperoleh dukungan dari dua kelompok partai Arab, kekuatan pendukung Eisenkot berpotensi meningkat menjadi 67 anggota parlemen. Jumlah tersebut cukup untuk mengamankan mayoritas di Knesset.

Namun, langkah tersebut masih menghadapi hambatan. Lieberman menolak bergabung dengan pemerintahan yang melibatkan partai-partai Arab ataupun bergantung pada dukungan mereka.

Para pemimpin oposisi dijadwalkan bertemu pada Selasa (3/11/2026) untuk menyelaraskan sikap sebelum Presiden Israel Isaac Herzog memulai konsultasi dengan faksi-faksi parlemen pada Rabu.

Herzog menggelar konsultasi selama 2 hari untuk menentukan siapa yang memiliki peluang terbesar membentuk pemerintahan baru, hasilnya akan diumumkan Minggu (8/11/2026).

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut