Perlakuan terhadap Muslimah Bercadar di Negara Barat Selama Pandemi Covid Semakin Positif
Para muslimah menyebut hal ini adalah harapan sosial baru terhadap perspektif penggunaan cadar.
“Jumlah kami sangat sedikit, kami sering mendapat komentar sebagai ancaman bagi masyarakat, karena kami menutupi wajah. Sekarang argumen itu terasa hilang. Saya berharap sentimen ini tidak muncul lagi usai pandemi,” kata seorang muslimah dari Illinois.
“Saya merasa ini merupakan kesempatan sempurna bagi muslimah untuk mulai mengenakan cadar. Saya masih mencoba-coba menggunakan cadar sebelumnya, tapi sekarang, sejak Covid-19, saya memakai cadar secara utuh," kata responden lainnya.
Namun larangan penggunaan cadar wajah di beberapa negara masih menjadi perhatian, seperti di Prancis dan Quebec, Kanada. Ditambah dengan Swiss yang akan melakukan referendum aturan serupa pada pada 7 Maret 2021.
Dalam aturan itu, menutupi wajah dikaitkan dengan tanda ekstremisme suatu agama, pemisahana sosial, dan simbol penindasan muslimah.
Hal itu memancing kritik dari para cendekiawan dan aktivis selama pandemi. Mereka mengkritik pemerintah yang menegakkan undang-undang pelarangan cadar yang dinilai kontradiktif dengan aturan penggunaan masker.
Seperti di Prancis, seseorang akan didenda jika ketahuan tidak mengenakan masker di depan umum, sementara yang mengenakan cadar juga akan didenda bahkan dengan nilai lebih besar.
Editor: Anton Suhartono