Pesawatnya Jatuh, Ini Alasan Ethiopian Tetap Kerja Sama dengan Boeing
ADDIS ABABA, iNews.id - Ethiopian Airlines menyatakan akan terus bekerja sama dengan Boeing, meski baru saja terjadi kecelakaan pesawat 737 Max milik maskapai itu dan Lion Air pada Oktober lalu.
Pihak manajemen Ethiopian Airlines menyatakan akan terus bekerja sama dengan Boeing, terlepas dari kecelakaan pesawat Boeing tipe 737 Max 8 yang menewaskan 157 orang, dua pekan lalu.
"Terlepas dari tragedi itu, Boeing dan Ethiopian Airlines akan terus berhubungan baik di masa depan," kata CEO Ethiopian Airlines, Tewolde Gebremariam, seperti dilaporkan BBC, Rabu (27/3/2019).
Secara terpisah, Tewolde juga mengatakan sistem anti-stall berfungsi sebelum kecelakaan itu terjadi.
Alasan Teknis Mengapa Pilot Lebih Sulit Mengendalikan Boeing 737 Max
Fitur ini diduga menjadi masalah dalam kecelakaan Boeing 737 Max 8 lainnya.
"Biarkan saya menjelaskan, Ethiopian Airlines percaya pada Boeing. Mereka sudah menjadi mitra kami selama bertahun-tahun," ucap Tewolde.
4 Pilot AS Laporkan Sulitnya Kendalikan Sistem Boeing 737 Max
Dia juga mengatakan bahwa lebih dari dua per tiga armadanya diproduksi oleh Boeing.
Ethiopian Airlines juga tengah memesan 25 pesawat 737 Max 8 tambahan, dan lima dari pesawat itu sudah mereka terima.
Seluruh Armada 737 Max Dilarang Terbang, Ini Pernyataan Boeing
Pekan lalu, maskapai Indonesia, Garuda Indonesia, membatalkan pesanan 49 pesawat Boeing 737 Max 8 setelah mengatakan pelanggannya "kehilangan kepercayaan" pada pesawat jenis itu.
Boeing sebelumnya menerima 5.012 pesanan untuk 737 Max 8 dan 376 di antaranya sudah dikirim.
Buntut Tragedi Ethiopia: Negara dan Maskapai yang Larang 737 Max 8
Sekelompok tim ahli, termasuk orang-orang dari Kementerian Perhubungan Ethiopia, sedang memeriksa data dari kotak hitam yang ditemukan di lokasi kecelakaan di dekat Addis Ababa.
Ini merupakan insiden fatal kedua yang melibatkan Boeing 737 Max dalam waktu kurang dari lima bulan setelah maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, jatuh pada Oktober tahun lalu, menewaskan 189 orang.
Indonesia sudah memutuskan untuk tidak mengoperasikan seluruh pesawat 737 Max 8.
Lebih lanjut, kepada Wall Street Journal, Tewolde mengatakan bahwa sistem anti-stall di pesawat, yang dikenal sebagai MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) -yang akan secara otomatis menurunkan hidung pesawat jika pesawat mendekati atau sedang 'stall' (kehilangan daya angkat)- tampaknya aktif sebelum jatuh.
Kendati dia mengatakan tidak memiliki akses ke perekam data penerbangan dan perekam suara kokpit dari penerbangan 302, dia mengaku sudah mendengarkan komunikasi antara kokpit dan menara kontrol di Addis Ababa.
Boeing saat ini tengah mempersiapkan perbaikan perangkat lunak untuk sistem MCAS, yang harus disetujui oleh Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA). Sistem ini dirancang untuk menahan pesawat agar tidak terbang naik ke sudut yang terlalu tinggi, kondisi yang bisa menyebabkan pesawat itu kehilangan daya angkatnya.
Pada kecelakaan Lion Air, diduga bahwa sistem itu mendorong hidung pesawat ke bawah beberapa kali sebelum jatuh.
Tewolde juga mengatakan dirinya berharap Boeing "lebih transparan" tentang MCAS, yang merupakan fitur baru pada pesawat Max, yang mulai terbang secara komersial pada 2017.
"Setelah Lion Air jatuh banyak yang harus dilakukan oleh pihak Boeing untuk mengungkapkan, dan membuat prosedur yang jelas, lebih jelas dari yang ditetapkan pada kami," ucapnya.
Boeing sendiri menyatakan akan mengadakan sesi dengar pendapat dengan pilot, operator, dan regulator pada Rabu (27/3) untuk membahas pembaruan perangkat lunak dan pelatihan pilot untuk 737 Max.
Ada pula kabar bahwa investigasi awal berdasarkan data kotak hitam Ethiopian Airlines dapat dirilis pekan ini.
Editor: Nathania Riris Michico