Presiden Jerman Sebut Rusia, China dan AS Membuat Dunia Jadi Tak Aman

Anton Suhartono ยท Sabtu, 15 Februari 2020 - 16:46 WIB
Presiden Jerman Sebut Rusia, China dan AS Membuat Dunia Jadi Tak Aman

Frank Walter Steinmeier (Foto: AFP)

MUNICH, iNews.id - Presiden Jerman Frank Walter Steinmeier membuat kuping Amerika Serikat, China, dan Rusia merah saat menyampaikan pidato di Konferensi Keamanan Muncih, Jumat (14/2/2020).

Dia menyebut ketiga negara itu telah membuat masyarakat internasional merasa tidak aman karena mereka saling berlomba untuk menjadi kekuatan besar. Kecenderungan ini dinilai Steinmeier bisa memunculkan persaingan baru dalam senjata nuklir.

"Rusia, sekali lagi telah membuat kekuatan militer dan pergeseran perbatasan yang diwarnai kekerasan di Eropa sebagai sarana politik," kata Steinmeier, dalam pidato pembukaan, dikutip dari Reuters, Sabtu (15/2/2020).

Sementara itu, lanjut dia, China tebang pilih dalam mengadopsi hukum internasional yakni yang tidak bertentangan dengan kepentingannya mereka.

"Dan sekutu terdekat kita, Amerika Serikat, di bawah pemerintahan sekarang, menolak gagasan komunitas internasional," tuturnya.

Steinmeier memang tidak menyebut nama presiden AS Donald Trump, namun dia menggunakan istilah 'membuat Amerika hebat lagi'. Jargon ini merupakan ciri khas Trump.

Dia menyebut jargon 'hebat lagi' itu telah mengorbankan tetangga, sekutu, serta mitra lainnya, termasuk Jerman.

"(Hasilnya) Lebih banyak ketidakpercayaan, lebih banyak persenjataan, lebih sedikit keamanan, sepanjang jalan menuju perlombaan senjata nuklir baru," katanya.

Dia melanjutkan, Jerman harus meningkatkan anggaran pertahanan agar dapat berkontribusi lebih banyak bagi keamanan Eropa dan untuk mempertahankan hubungannya dengan AS.

Steinmeier juga menyoroti pengaruh negatif Rusia di Eropa. Dia mengimbau negara-negara Eropa mengeluarkan kebijakan yang tidak hanya sebatas mengutuk namun memberikan sanksi.

Terkait China, Eropa harus bisa menyeimbangkan diri antara meningkatkan persaingan dan kebutuhan dalam bekerja sama.

Editor : Anton Suhartono