Profil Srikanth Bolla, Tunanetra India yang Kuliah di AS dan Kini Jadi CEO Perusahaan
"Orang tua saya diberitahu bahwa saya bahkan tidak bisa jaga rumah sendirian karena saya tidak bisa melihat apakah ada anjing jalanan yang masuk. Banyak orang datang ke orang tua saya dan menyarankan untuk membunuh saya dengan bantal," kenang pria berusia 31 tahun itu.
Setiap hari, selama dua tahun, Srikanth Bolla yang saat itu berumur enam tahun harus berjalan beberapa kilometer ke sekolah di perdesaan India. Dia berjalan dipandu oleh saudaranya dan mengikuti teman-teman sekelasnya.
Jalannya berlumpur, ditumbuhi semak belukar, yang tergenang selama musim hujan. Itu bukan saat yang menyenangkan. Parahnya lagi, dia mengaku tak ada orang mau bicara dengannya karena buta.
Namun orang tuanya yang tetap mendukung Srikanth tiba-tiba membawa kabar gembira saat Srikanth berusia delapan tahun.
Srikanth dapat tempat di sekolah asrama untuk anak-anak tunanetra. Dia akan dipindahkan ke kota terdekat, Hyderabad, yang berjarak 400 km dari rumahnya. Pada saat itu, kota tersebut berada di Negara Bagian Andhra Pradesh.
Meski jauh dari orang tuanya, Srikanth bersemangat dan cepat beradaptasi. Dia belajar berenang, bermain catur, dan bermain kriket dengan bola yang mengeluarkan suara berderak sehingga dia bisa menemukannya.
"Kuncinya pada tangan dan telinga," ungkapnya.
Srikanth menikmati hobinya itu tetapi juga mulai bertanya-tanya tentang masa depannya. Dia selalu bermimpi menjadi seorang insinyur dan perlu belajar sains dan matematika untuk mewujudkannya.
Saat remaja itulah, Srikanth diberitahu bahwa belajar matematika dan sains di sekolah menengah atas adalah hal yang terlarang untuk dirinya. Hal itu karena dia buta.
Sekolah-sekolah India dikelola oleh beberapa badan, masing-masing dengan aturannya sendiri. Beberapa berada di bawah pemerintah negara bagian atau dewan pusat, yang lain dikelola swasta.