Saudi Siap Fasilitasi Dialog di Riyadh untuk Redakan Konflik Yaman Selatan
Bagi Arab Saudi, langkah STC dinilai mengancam keutuhan Yaman dan berisiko menciptakan instabilitas baru di perbatasannya. Riyadh menegaskan dukungan penuh terhadap pemerintahan sah Yaman dan menganggap setiap dukungan terhadap kelompok separatis sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Saudi.
“Kerajaan menegaskan setiap ancaman terhadap keamanan nasionalnya adalah garis merah,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arab Saudi, menyusul ultimatum penarikan pasukan UEA dalam waktu 24 jam.
Sebaliknya, UEA selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan kelompok-kelompok bersenjata di Yaman selatan, termasuk STC. Abu Dhabi berdalih dukungan tersebut bertujuan memerangi terorisme dan menjaga stabilitas, meski tudingan Saudi dan pemerintah Yaman menyebut langkah itu justru memperparah fragmentasi negara.
UEA sempat membantah tuduhan mengarahkan STC untuk memberontak, namun akhirnya mengumumkan penarikan unit kontraterorisme yang tersisa di Yaman setelah situasi memanas. Langkah ini dipandang sebagai upaya meredam konflik terbuka dengan Saudi, meski perbedaan kepentingan tetap menganga.
Kepala Dewan Kepresidenan Yaman, Rashad Al Alimi, sebelumnya meminta bantuan Saudi untuk menindak kelompok separatis yang dinilai semakin leluasa. Dia menuding UEA berada di balik eskalasi yang mendorong ambisi pemisahan Yaman selatan.
Menguatnya tuntutan negara Yaman Selatan dinilai mengalihkan fokus konflik dari perlawanan terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran. Perpecahan di antara negara-negara koalisi Arab ini berpotensi memberi ruang bagi aktor lain untuk memperluas pengaruhnya di Yaman.
Konflik Saudi dan UEA membuat masa depan Yaman semakin tidak menentu. Ambisi separatis yang kembali bangkit dikhawatirkan tidak hanya memecah Yaman, tetapi juga merombak keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah.
Editor: Maria Christina