Sudan Kacau akibat Perang Saudara, Naik Angkutan Umum Bayar Pakai Sabun
Bank Dibakar dan Dijarah, Ekonomi Kolaps Total
Kekacauan ini bermula saat pertempuran mencapai ibu kota Khartum pada 2023. Bank Sentral Sudan dibakar dan kemudian diduduki pemberontak selama hampir dua tahun, menghentikan operasi jaringan antarbank SWIFT. Bank-bank komersial ditutup, dijarah, dan brankasnya kosong.
Akibatnya uang tunai hilang dari pasaran, tabungan warga beku tanpa akses, tidak ada transaksi elektronik, pelaku usaha kecil gulung tikar, eEkonomi Sudan praktis lumpuh, dan perdagangan berbasis uang digantikan barter di hampir semua sektor.
Sudan Hidup dalam Kekacauan Baru
Dengan mata uang tidak lagi berharga dan fasilitas negara tidak berfungsi, Sudan memasuki fase kekacauan sosial-ekonomi baru, kehidupan tanpa uang, tanpa pasar stabil, dan tanpa sistem transportasi finansial yang dapat diandalkan.
Warga tak hanya berjuang melawan perang yang tak berkesudahan, tetapi juga berjuang untuk memastikan mereka dapat makan, bepergian, dan bekerja, hanya dengan modal barang yang mereka punya.
Konflik yang terus membakar Sudan ini bukan hanya menghancurkan bangunan dan kota, tetapi juga menghancurkan fondasi kehidupan masyarakat modern. Di banyak wilayah, warga kini hidup seolah kembali ke era di mana barang ditukar dengan barang, bukan karena pilihan, tetapi karena kekacauan memaksa mereka demikian.
Editor: Anton Suhartono