Taiwan Kirim Jet Tempur 2 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding 2019 untuk Cegat Pesawat China

Anton Suhartono ยท Selasa, 06 Oktober 2020 - 12:42:00 WIB
Taiwan Kirim Jet Tempur 2 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding 2019 untuk Cegat Pesawat China
Jet tempur Taiwan cegat pesawat pengebom H-6 China yang melintasi zona identifikasi pertahanan udara (Foto: Kementerian Pertahanan Taiwan via AFP)

TAIPEI, iNews.id - Militer Taiwan sepanjang tahun ini mengirim jet tempur untuk mencegat pesawat militer China yang dianggap melanggar wilayah udara dua kali lipat lebih dibandingkan pada tahun lalu.

Kementerian Pertahanan Taiwan, dalam laporannya ke parlemen, menegaskan, kondisi ini membuktikan ancaman dari China semakin meningkat.

China memang meningkatkan aktivitas militer di perairan dekat Taiwan sebagai respons atas semakin harmonisnya hubungan wilayah itu dengan Amerika Serikat (AS). Soal tuduhan pelanggaran wilayah udara, China bersikeras Taiwan masih bagian provinsinya.

Dalam beberapa pekan terakhir, jet tempur China beberapa kali melintasi garis tengah Selat Taiwan, yang biasanya digunakan sebagai batas resmi kedua pihak, atau zona identifikasi pertahanan udara.

Kementerian Pertahanan menyebutkan, tahun ini Angkatan Udara mengirim misi pencegahan 4.132 kali, naik 129 persen dibandingkan tahun lalu.

"(China) Berusaha menggunakan aksi militer sepihak untuk mengubah status quo keamanan di Selat Taiwan dan pada saat yang sama menguji respons kita, meningkatkan tekanan pada pertahanan udara kita, serta mempersempit ruang aktivitas kita," bunyi laporan, sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa (6/10/2020).

China sangat marah terkait semakin kuatnya dukungan AS terhadap Taiwan, ditandai dengan kunjungan resmi pejabat senior AS ke wilayah itu.

Presiden Taiwan Tsai Ing Wen mengawasi langsung program modernisasi militer yang bertujuan untuk memperkuat angkatan bersenjata sehingga membuat wilayahnya lebih sulit diserang, tentunya dengan bantuan AS. Meski demikian, kekuatan militer Taiwan tetap masih jauh di bawah China.


Editor : Anton Suhartono