Tunangan Khashoggi Sebut Putusan Pengadilan Arab Saudi Sebuah Lelucon

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 15 Januari 2020 - 09:56 WIB
Tunangan Khashoggi Sebut Putusan Pengadilan Arab Saudi Sebuah Lelucon

Hatice Cengiz, tunangan mendiang jurnalis Jamal Khashoggi saat berbicara di Capitol Hill, Washington DC, 16 Mei 2019. (FOTO: AFP)

RIYAHD, iNews.id - Tunangan wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi yang dibunuh menyebut, hukuman mati bulan lalu terhadap lima orang yang tidak disebutkan namanya sebagai penghinaan terhadap keadilan. Hatice Cengiz mengatakan hal itu dalam wawancara pertama yang berbahasa Inggris.

"Ini seperti lelucon bagi saya dan tidak bisa diterima karena kita tidak mengetahui rincian mengenai penyelidikan ini," kata Cengiz, kepada Fredrik Skavlan, yang berbasis di Oslo dalam sebuah wawancara televisi pada Minggu (12/1/2020).

"Mereka memberi tahu kita hanya lima laki-laki tanpa nama," katanya.

"Kenapa lima orang? Lebih dari 10 orang datang ke Turki!"

"Kita menginginkan hukuman nyata, termasuk terhadap mereka yang memberi perintah," tutur Cengiz.

BACA JUGA:

5 Pembunuh Jamal Khashoggi Dihukum Mati, Begini Reaksi AS dan Turki

MBS Buka Suara, Akui Pembunuhan Khashoggi Terjadi di Bawah Pengawasannya

Setahun Kematian Khashoggi: MBS Akui Bertanggung Jawab tapi Bantah Perintahkan Pembunuhan

Tepat Satu Tahun Berlalu, Kematian dan Keberadaan Tubuh Khashoggi Masih Tinggalkan Tanda Tanya

Keputusan pengadilan Arab Saudi terkait pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018, mengundang banyak kecaman.

Pengadilan Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati terhadap lima orang dan tiga lainnya hukuman penjara terkait pembunuhan terhadap Khashoggi. Khashoggi dibunuh pada Oktober 2018 di konsulat Riyadh di Istanbul.

Dalam pembunuhan brutal itu, tubuh wartawan pembangkang Arab Saudi itu dimutilasi dengan gergaji itu. Saat kejadian, Cengiz sedang menunggu Kashoggi di luar gedung konsulat.

Putusan pengadilan Arab Saudi pada 23 Desember, hasil dari proses persidangan secara rahasia, secara luas ditolak karena menghukum mereka yang melakukan serangan namun melindungi mereka yang memerintahkan pembunuhan itu.


Editor : Nathania Riris Michico