Vakum 16 Tahun, Pemerintah AS Terapkan Kembali Hukuman Mati

Anton Suhartono ยท Jumat, 26 Juli 2019 - 11:06 WIB
Vakum 16 Tahun, Pemerintah AS Terapkan Kembali Hukuman Mati

Pemerintah federal AS akan memberlakukan kembali hukuman mati (Foto: AFP)

WASHINGTON, iNews.id - Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan kembali menerapkan hukuman mati setelah 16 tahun vakum. Ada lima terpidana penghuni tahanan federal yang menunggu dieksekusi setelah hukuman mati diberlakukan lagi dalam waktu dekat.

Jaksa Agung Bill Barr mengatakan, pemberlakuan kembali hukuman mati merupakan respons dari arahan Presiden Donald Trump yang meminta agar pelaku kejahatan kekerasan mendapat hukuman lebih keras.

Barr telah mengarahkan lembaga pemasyarakatan federal atau Biro Penjara Federal untuk mengadopsi protokol yang baru, yakni suntik mati dalam pelaksanaan eksekusi.

"Departemen Kehakiman menegakkan hukum, dan kami berutang kepada para korban dan keluarga mereka untuk meneruskan hukuman yang ditetapkan dalam sistem peradilan kami," kata Barr, dikutip dari AFP, Jumat (26/7/2019).

Selama ini hukuman mati di AS dijatuhkan oleh pengadilan negara bagian bukan federal. Pada 2018, ada 25 napi yang dieksekusi di beberapa negara bagian yang masih menerapkan hukuman ini.

Perdebatan timbul mengenai metode eksekusi serta obat-obatan yang digunakan untuk suntik mati.

Menurut Barr, di bawah aturan baru, pemerintah federal akan melakukan eksekusi menggunakan pentobarbital barbiturat untuk suntik mati tunggal, menggantikan tiga obat thiopental.

"Sejak 2010, 14 negara bagian menggunakan pentobarbital untuk lebih dari 200 eksekusi, dan pengadilan federal, termasuk Mahkamah Agung, berulang kali menggunakan pentobarbital dalam eksekusi sesuai dengan Amandemen Kedelapan (Konstitusi)," ujarnya, menjelaskan.

Data dari Pusat Informasi Hukuman Mati menyebut, ada 62 napi yang dijatuhkan vonis hukuman mati di bawah pengadilan federal AS, termasuk Dzhokhar Tsarnaev, terpidana kasus bom marathon Boston 2013 yang menewaskan tiga orang.

Selain itu, napi lain yang masuk daftar adalah tokoh supremasi kulit putih Dylann Roof yang membunuh sembilan orang warga kulit hitam di gereja Charleston, South Carolina, pada 2015.

Namun dalam waktu dekat, lembaga pemasyarakatan federal menjadwalkan eksekusi terhadap lima orang. Mereka sudah menjalani hukuman 15 tahun lalu atau lebih dalam kasus pembunuhan brutal melibatkan korban anak-anak.

Pemerintah federal sebelumnya sempat menangguhkan hukuman mati selama hampir 40 tahun sampai 2003, usai eksekusi terhadap pelaku pengeboman Oklahoma Timothy McVeigh serta dua orang lainnya.

Sejak itu, semua eksekusi mati dilakukan oleh negara bagian. Dari 50 negara bagian di AS, sebanyak 25 di antaranya masih memberlakukan hukuman mati, 21 melarang, dan empat masih menangguhkan.


Editor : Anton Suhartono